INDSATU - Pantun merupakan bentuk sastra lisan lintas peradaban Asia Tenggara yang tidak sekadar berfungsi sebagai hiburan estetik, melainkan sebagai sistem sosial yang mengatur etika, hukum adat, diplomasi, dan transmisi nilai kolektif. Esai ini mengkritisi konsep kurasi dan kompetisi pantun berskala ASEAN yang cenderung menetapkan standar estetika tunggal atas ekspresi budaya yang secara historis multikarakter. Dengan pendekatan sastra-peradaban dan antropologi lisan, tulisan ini menegaskan bahwa homogenisasi pantun dalam format lomba berpotensi mencabut fungsi kulturalnya serta melahirkan kolonialisme estetika baru dalam kemasan literasi modern.
Pantun sebagai Produk Peradaban, Bukan Genre Hiburan
Dalam masyarakat pra-aksara Asia Tenggara, pantun berfungsi sebagai arsip sosial hidup. Ia menggantikan teks hukum, kontrak sosial, pendidikan moral, dan diplomasi komunitas.
Seperti epik Yunani menyimpan sejarah Hellas,
seperti Analects Konfusius menyimpan etika Tiongkok,
pantun menyimpan memori peradaban monsun.
Menjadikannya sekadar karya lomba berarti mereduksi:
> peradaban → estetika
nilai sosial → skor juri
kebijaksanaan kolektif → preferensi artistik
Di titik inilah pantun mulai kehilangan statusnya sebagai sistem budaya.
Keberagaman Fungsi Pantun di Asia Tenggara
Pantun tidak pernah tunggal dalam makna sosial.
Melayu Maritim
Pantun sebagai etika relasi personal dan diplomasi halus
— estetika bunyi menjadi pusat kehormatan sosial.
Minangkabau
Pantun sebagai hukum adat dan mekanisme politik lisan
— metafora alam menjadi legitimasi moral.
Vietnam, Thailand, Filipina
Pantun sebagai lagu kerja, filsafat rakyat, kritik kelas bawah.
Secara antropologis, ini disebut fungsi kultural diferensial —
bentuk sama, peran sosial berbeda.
Maka menetapkan satu kriteria “pantun terbaik” adalah kesalahan metodologis.
Kurasi Budaya dan Ilusi Netralitas Estetika
Setiap kurasi selalu membawa ideologi.
Ketika juri menetapkan:
rima paling indah
metafora paling halus
struktur paling “puitis”
Mereka sedang memilih budaya dominan secara estetika, bukan keragaman fungsi peradaban.
Ini bukan kesalahan personal,
melainkan masalah epistemologis dalam kompetisi budaya.
Standar estetika modern lahir dari:
— sastra tulis
— romantisme Barat
— nilai individual ekspresif
Sementara pantun lahir dari:
— komunitas kolektif
— hukum sosial
— etika harmoni
Keduanya tidak kompatibel.
Lomba Budaya sebagai Bentuk Kolonialisme Estetika Baru
Kolonialisme lama menaklukkan tanah.
Kolonialisme modern menaklukkan makna.
Kini bukan senjata yang menyeragamkan budaya,
melainkan standar penilaian.
Ketika pantun adat Minangkabau kalah karena “kurang indah”,
padahal ia kuat sebagai hukum sosial —
itu adalah bentuk marginalisasi peradaban.
Ketika pantun rakyat Vietnam kalah karena “terlalu sederhana”,
padahal ia hidup sebagai filsafat harian —
itu adalah penghapusan konteks budaya.
Inilah yang dalam kajian budaya disebut:
> aesthetic domination disguised as celebration.
Ilusi Persatuan Budaya ASEAN
Kompetisi pantun sering dibungkus dengan narasi:
“mempererat persaudaraan serumpun”.
Namun persatuan sejati lahir dari pengakuan perbedaan,
bukan penyeragaman ekspresi.
ASEAN bukan satu peradaban homogen,
melainkan jejaring kosmos budaya.
Menyatukan pantun dalam satu format lomba sama seperti:
— menilai tari ritual dan tari hiburan dengan skor sama
— menilai doa dan lagu pop dalam kompetisi vokal
Secara akademik: itu kekeliruan kategori
Dampak Jangka Panjang yang Mengkhawatirkan
Jika model ini terus berlanjut:
Pantun adat akan berubah menjadi pantun lomba
Fungsi hukum sosial akan hilang
Metafora lokal akan disederhanakan
Generasi muda belajar menulis untuk menang, bukan untuk hidup budaya
Akhirnya pantun menjadi produk sastra steril
indah tapi kosong konteks.
Alternatif Kurasi Berbasis Peradaban (Solusi Akademik)
Jika ingin adil secara budaya:
kategorisasi fungsi (adat, diplomasi, rakyat, romantik)
penilaian kontekstual tiap wilayah
juri antropologi budaya, bukan hanya sastrawan
dokumentasi praktik sosial pantun
Bukan lomba tunggal rasa.
Melainkan festival keragaman peradaban.
Pantun Bukan Panggung Trofi, Tapi Peta Jiwa Bangsa
Pantun lahir dari hujan, tanah, adat, konflik, cinta, dan sejarah.
Ia bukan aksesoris budaya.
Ia adalah struktur peradaban.
Jika kita terus memaksanya masuk ke dalam kompetisi homogen,
kita bukan sedang melestarikan —
kita sedang memuseumkan budaya hidup.
Indah dilihat.
Mati fungsinya.
Kesimpulan Akademik-Sastra
Lomba Pantun ASEAN adalah niat baik yang berisiko besar.
Tanpa kesadaran antropologis, ia berubah menjadi:
> proyek penyeragaman estetika atas keragaman peradaban.
Pantun seharusnya dirayakan sebagai sistem sosial multikarakter,
bukan dikurasi sebagai genre sastra tunggal.(*)
Sumatera Barat, Indonesia, 2026.

0 Komentar