DPP PDI Perjuangan menetapkan pemecatan Achmad Hidayat melalui keputusan partai. Achmad kemudian memberikan tanggapan dengan menyampaikan terima kasih atas kesempatan yang pernah diberikan kepadanya untuk ikut berkontribusi dalam perjalanan politik partai, khususnya di Kota Surabaya.
Achmad mengakui bahwa kontribusinya terhadap partai tidak terlalu besar. Namun, ia menyebut pernah ikut terlibat dalam sejumlah agenda politik PDI Perjuangan di Surabaya, termasuk dalam upaya pemenangan pada Pemilu 2024.
Salah satu hal yang disinggungnya adalah kontribusi dalam mempertahankan posisi PDI Perjuangan sebagai partai yang memiliki kepemimpinan di DPRD Kota Surabaya setelah pelaksanaan Pemilihan Legislatif 2024.
Keputusan pemecatan tersebut kemudian dikaitkan dengan kunjungan Achmad ke rumah Jokowi di Solo. Pertemuan itu disebut berlangsung pada Juli 2026 dan dilakukan atas inisiatif pribadi Achmad setelah dirinya melakukan ziarah ke Ponorogo.
Achmad menjelaskan bahwa dirinya datang tanpa menggunakan atribut partai. Ia mengenakan pakaian putih dan menyebut pertemuan tersebut sebagai silaturahmi biasa.
Dalam pertemuan itu, Achmad mengaku hanya bersalaman dan berbincang dengan Jokowi. Setelah pertemuan tersebut, ia kemudian mengunggah momen kunjungannya ke media sosial.
Namun, kunjungan tersebut ternyata menjadi persoalan di internal partai. Berdasarkan pemberitaan mengenai keputusan DPP PDIP, kunjungan Achmad ke rumah Jokowi serta pernyataannya mengenai kemungkinan rehabilitasi status keanggotaan Jokowi dinilai sebagai tindakan yang tidak menjadi kewenangannya.
Achmad sendiri membenarkan bahwa setelah unggahan mengenai pertemuannya dengan Jokowi beredar, muncul proses internal yang akhirnya berujung pada keputusan pemberhentian dirinya dari partai.
Menariknya, dalam rangkaian keterangannya, Achmad juga menyinggung kondisi politik di Surabaya, termasuk nama Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dan Wakil Wali Kota Surabaya Armuji.
Nama keduanya ikut menjadi perhatian karena Achmad sebelumnya merupakan bagian dari struktur PDI Perjuangan di Surabaya. Ia memiliki pengalaman dalam berbagai kegiatan partai dan pernah terlibat dalam sejumlah agenda politik di Kota Pahlawan.
Achmad tidak memilih untuk melakukan perlawanan secara terbuka terhadap keputusan tersebut. Sebaliknya, ia justru menyampaikan rasa terima kasih kepada partai karena selama ini telah memberinya kesempatan untuk ikut berkontribusi.
Sikap tersebut membuat pemecatan Achmad menjadi sorotan tersendiri. Di tengah dinamika politik internal PDIP, keputusan terhadap seorang kader yang berkunjung kepada Jokowi menunjukkan bahwa hubungan politik antara sejumlah tokoh masih menjadi perhatian di internal partai.
Sebelumnya, Achmad juga mengungkap bahwa dalam pertemuannya dengan Jokowi, ia sempat membicarakan hubungan Jokowi dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.
Menurut cerita Achmad, Jokowi menyampaikan kepadanya bahwa dirinya tidak memiliki masalah dengan Megawati dan suatu saat keduanya akan bertemu. Informasi mengenai percakapan tersebut kemudian disampaikan Achmad kepada pihak DPP PDIP.
Kini, setelah keputusan pemecatan ditetapkan, Achmad menyatakan menerima keputusan tersebut. Ia memilih mengingat kesempatan yang pernah diberikan partai kepadanya selama menjalankan aktivitas politik di Surabaya.
Peristiwa ini pun menambah panjang dinamika politik yang melibatkan nama Jokowi dan PDIP. Pertemuan yang disebut sebagai silaturahmi pribadi ternyata kemudian memiliki konsekuensi politik bagi Achmad Hidayat.
Sementara itu, perkembangan mengenai posisi Achmad setelah tidak lagi menjadi kader PDIP masih menjadi perhatian. Begitu pula dengan dinamika politik di Surabaya yang melibatkan sejumlah tokoh, termasuk Eri Cahyadi dan Armuji.
Untuk saat ini, Achmad memilih menyampaikan terima kasih atas pengalaman dan kesempatan yang pernah diperolehnya selama berada di PDI Perjuangan.(*)

0 Komentar