Fauzi Bahar, Sang “Pamberang” yang Tampil sebagai Panglima di Tengah Gempa


    *Catatan Andi Meirizal.



INDSATU - Ada sosok yang mungkin pada pandangan pertama sulit dilupakan.

Begitu pula dengan sosok Fauzi Bahar.


Saya mengenal beliau dulunya sebagai seorang yang “pamberang”.


Apa saja yang dirasakan tidak berkenan di hati, sering kali memancing kemarahannya dan berujung pada ketegasan yang keras.


Begitulah Fauzi Bahar yang saya kenal. Namun, pandangan saya terhadap beliau berubah ketika Kota Padang diguncang gempa dahsyat pada 30 September 2009.


Hari itu adalah hari yang sulit dilupakan oleh masyarakat Kota Padang. Gempa datang dengan kekuatan yang mengguncang bukan hanya bangunan, tetapi juga rasa aman dan ketenangan masyarakat.


Kepanikan terjadi di mana-mana. Kesemrawutan melanda Kota Padang dan sejumlah daerah di sekitarnya.


Di tengah situasi itulah, sosok Fauzi Bahar justru menunjukkan sisi lain dirinya.


Dengan latar belakang militer yang membentuk jiwa disiplin, keberanian dan kepemimpinannya, beliau bergerak cepat.


Dari Balai Kota Padang yang ketika itu masih berada di kawasan Jalan M. Yamin, beliau berlari menuju bibir pantai untuk memastikan kondisi secara langsung.

Di tengah kepanikan masyarakat, beliau menyampaikan keyakinannya:

“Tidak ada tsunami.”


Kalimat sederhana itu memiliki arti besar. Sebab, dalam situasi penuh ketakutan, masyarakat membutuhkan seseorang yang berani berdiri di depan, melihat keadaan secara langsung, lalu memberikan kepastian.


Dari kawasan pantai, Fauzi Bahar kemudian bergerak menuju Radio Republik Indonesia (RRI) di Jalan Sudirman. Radio menjadi salah satu sarana penting untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat yang sedang dilanda kepanikan.


Beliau berbicara langsung melalui radio. Menenangkan masyarakat. Mengimbau agar tidak panik. Mengajak masyarakat tetap tenang dan mengikuti arahan.


Ada satu pernyataan beliau yang sampai sekarang masih teringat bagi saya:

“Bapak Gubernur, Bapak Kapolda, Bapak Danrem, Danlanal, Danlanud, serta seluruh Kasat Pol PP se-Sumatera Barat, pasukan saya ambil alih.”


Bagi saya, kalimat itu menggambarkan keberanian seorang pemimpin yang sedang berada dalam situasi luar biasa.


Ketika masyarakat membutuhkan ketenangan, seorang pemimpin dituntut hadir, bukan sekadar memberikan perintah dari kejauhan.

Yang juga sangat berkesan adalah bagaimana beliau menyikapi persoalan pengungsian.


Pada umumnya, ketika bencana besar terjadi, masyarakat mencari tempat yang dianggap lebih aman. Demikian pula saat gempa 2009. Banyak warga meninggalkan rumah dan mencari tempat yang lebih tinggi karena takut ancaman tsunami.


Namun Fauzi Bahar melalui siaran RRI mengimbau masyarakat yang sudah terlanjur mengungsi agar kembali ke rumah masing-masing.


Keyakinan beliau bukan sekadar persoalan keberanian, tetapi juga dilandasi oleh nilai keagamaan yang kuat.


Salah satu ungkapan yang disampaikannya dan masih saya ingat adalah:

“Tidak akan jatuh daun sehelai pun tanpa izin dari Allah.”


Kalimat tersebut menunjukkan bagaimana agama menjadi sumber ketenangan dan keberanian dalam menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian.


Tentu, setiap peristiwa besar selalu memiliki banyak cerita dan sudut pandang.


Tetapi bagi saya pribadi, 30 September 2009 menjadi momentum yang memperlihatkan sisi lain seorang Fauzi Bahar.


Sosok yang sebelumnya saya kenal sebagai “pamberang”, pada hari itu justru saya lihat sebagai sosok yang berani berada di garis depan ketika masyarakat membutuhkan kepemimpinan.


Hari ini, 30 September 2026, tepat 17 tahun setelah gempa dahsyat tersebut, Kota Padang telah banyak berubah.

Kota ini kembali menggeliat.


Pembangunan terus berjalan. Aktivitas ekonomi tumbuh. Kehidupan masyarakat kembali normal dan wajah Kota Padang terus berkembang mengikuti zaman.


Namun, 30 September bukan hanya tentang mengenang sebuah bencana. Ia juga tentang mengenang keberanian, kepemimpinan, solidaritas dan keteguhan masyarakat dalam bangkit dari keterpurukan.


Karena sebuah kota tidak hanya dibangun dengan beton, jalan dan gedung. Kota juga dibangun oleh keberanian orang-orang yang berada di dalamnya.


Dan bagi saya, Fauzi Bahar adalah salah satu sosok yang meninggalkan catatan tersendiri dalam sejarah Kota Padang, khususnya ketika kota ini menghadapi salah satu ujian terbesarnya.


Doa dan harapan saya, semoga Bapak Fauzi Bahar senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan dan umur yang panjang oleh Allah SWT.


Semoga pengalaman, keteladanan dan nilai-nilai yang beliau miliki—terutama nilai agama, adat dan budaya—terus diwariskan kepada generasi muda Kota Padang khususnya dan Sumatera Barat pada umumnya.


Generasi muda membutuhkan bukan hanya pembangunan fisik, tetapi juga keteladanan tentang keberanian, kepedulian, tanggung jawab dan kecintaan kepada daerah.


Semoga nilai-nilai itu terus menjadi bekal dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045.


Dan satu kalimat yang dahulu begitu lekat dengan kepemimpinan beliau sebagai Wali Kota Padang, kiranya tetap menjadi semangat bersama kita:

“Padang Kota Tercinta, Kujaga dan Kubela.”(*)


*Penulis adalah Ketua DPC Gebu Minang Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang.

Posting Komentar

0 Komentar

Selamat datang di Website www.indsatu.com, Terima kasih telah berkunjung.. tertanda, Pemred : Yendra