INDSATU - Puluhan sumur di Kecamatan Canduang dan Ampek Angkek, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, dilaporkan kering dalam dua minggu terakhir, padahal hujan masih sering turun di wilayah itu.
Kondisi ini menjadi perhatian serius dalam rapat koordinasi (rakor) yang digelar oleh BPBD Sumatera Barat bersama BMKG Stasiun Geofisika Padang Panjang di Kantor BPBD Sumbar, Senin (20/10/2025).
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Padang Panjang, Suaidi Ahadi, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima laporan dari BPBD Agam terkait fenomena sumur kering tersebut
Hasil pemantauan pihaknya menunjukkan bahwa curah hujan di kawasan itu masih cukup tinggi, sehingga kekeringan tidak semestinya terjadi
Dari data Automatic Weather Station (AWS) kami, curah hujan di Canduang selama Agustus hingga Oktober mencapai sekitar 300 milimeter. Itu artinya, rata-rata 20 sampai 30 milimeter per hari, dan curah hujan tergolong cukup,” kata Suaidi saat diwawancarai usai rapat.
Menurut Suaidi, kekeringan ini menimbulkan tanda tanya besar. Sebab, biasanya sumur warga baru mengering jika curah hujan menurun drastis atau saat musim kemarau panjang.
Sebenarnya tidak harus terjadi kekeringan, tapi kejadian disana puluhan sumur warga kedalaman 15 meter mengalami penurunan air. Ini yang kami curigai, apakah disebabkan oleh faktor klimatologis-hidrologis atau justru tanda awal adanya aktivitas tektonik dari Segmen Sianok,” jelasnya.
BMKG menduga ada dua kemungkinan penyebab utama fenomena tersebut. Mulai dari
Klimatologis-hidrologis, yakni perubahan pola hujan atau pergeseran lapisan tanah yang memengaruhi debit air bawah tanah.
Serta Geologis-tektonik, yaitu perubahan tekanan dan pergerakan patahan aktif yang dapat memengaruhi sumber air di bawah permukaan
Kalau hujan masih turun tapi mata sumur kering, ini perlu kita perhatikan. Bisa jadi ada tekanan dari aktivitas gempa yang sedang meningkat di segmen Sianok bagian utara,” tambahnya.
Sementara untuk saat ini, BMKG Padang Panjang mencatat adanya peningkatan aktivitas gempa di Segmen Sianok bagian utara, khususnya di Kabupaten Pasaman
Sejak 13 Oktober 2025 hingga saat ini, terpantau lebih dari 47 kali gempa kecil di kawasan tersebut.
“Gempa-gempa itu mengumpul di satu zona yang masih satu kelurusan dengan Segmen Kajai Talamau. Ada dua kemungkinan, apakah ini zona persiapan gempa kuat atau sekadar relaksasi segmen setelah aktivitas sebelumnya,” ungkap Suaidi.
Meski fenomena ini memunculkan kekhawatiran, BMKG menegaskan agar masyarakat tidak panik.
Suaidi menekankan pentingnya mitigasi dan kesiapsiagaan, mengingat wilayah Sumbar memang berada di atas Sesar Besar Sumatra (Sumatra Fault System).
Masyarakat tidak perlu panik. Kita memang hidup di kawasan yang aktif secara tektonik. Yang penting adalah memahami risikonya dan meningkatkan kewaspadaan,” tutupnya.(Rls)

0 Komentar