Jalan Rusak, Nyawa Melayang: Kisah Pilu Barun Alamsyah dari Pelosok Agam


Gambar ilustrasi ( Dok : ist )


INDSATU - Kisah pilu datang dari pelosok Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Seorang warga bernama Barun Alamsyah (65 tahun), warga Maur Hilir, Jorong Kayu Pasak Timur, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, harus ditandu sejauh delapan kilometer hanya untuk mendapatkan perawatan medis.


Namun takdir berkata lain. Senin, 20 Oktober 2025, tubuh Barun bukan lagi ditandu untuk berobat, melainkan digotong warga menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Jalan yang rusak parah membuat mobil maupun ambulans tak bisa menjangkau kampung mereka. Satu-satunya akses hanyalah jalur tanah licin, berlumpur, dan menanjak, yang harus dilalui dengan perjuangan luar biasa.


Barun bukan satu-satunya korban keterisolasian ini. Ia tercatat sebagai warga ketujuh yang harus ditandu sejauh itu demi mendapat layanan kesehatan. Sayangnya, hingga akhir hayatnya, ia tak pernah sekalipun merasakan jalan beraspal di kampung sendiri.


Kisah Barun Alamsyah bukan sekadar kabar duka, melainkan cermin nyata kesenjangan pembangunan yang masih menghantui daerah-daerah terpencil. Jalan yang seharusnya menjadi urat nadi kehidupan, justru berubah menjadi penghalang antara harapan hidup dan kematian.


Masyarakat berharap, kisah ini menjadi panggilan nurani bagi pemerintah agar segera memperbaiki akses jalan menuju Maur Hilir dan kampung-kampung terpencil lainnya di Agam. Agar tak ada lagi warga yang harus kehilangan nyawa hanya karena jalan menuju pertolongan tak pernah benar-benar terbuka.(*)


Sc : Sumbarkita

Posting Komentar

0 Komentar

Selamat datang di Website www.indsatu.com, Terima kasih telah berkunjung.. tertanda, Pemred : Yendra