INDSATU - Malam 25 Oktober 2025 itu, langit Padang redup. Angin membawa aroma hujan yang tertahan. Di gedung Kebudayaan Sumatera Barat bangunan besar yang telah hampir satu dasawarsa terkatung antara harapan dan kenyataan lampu-lampu temaram menyala seadanya. Namun dari kegelapan itulah lahir cahaya kecil yang hangat pertunjukan teater eksperimental berjudul “Ingrid”, karya seniman teater dan sastrawan Boyke Sulaiman.
Di panggung yang belum rampung, Boyke menghadirkan kehidupan. “Ingrid” bukan hanya sebuah lakon, tetapi juga pernyataan sebuah seruan tentang pentingnya ruang kebudayaan yang layak di tanah Minangkabau, tempat nilai dan tradisi seharusnya hidup, bukan sekadar dikenang.
Sosok dalam Bayangan
“Ingrid” lahir dari kisah lama yang beredar di kalangan seniman sanggar era 1980-an. Dikisahkan, Ingrid adalah seorang perempuan cantik yang mati terbunuh di rumah dansa kekasihnya yang ingkar janji. Namun dalam tangan Boyke, kisah ini tidak berubah menjadi horor murahan sebagaimana tren film Indonesia yang hampir 80 persen berkutat pada mistik dan ketakutan
Sebaliknya, Boyke menghadirkan Ingrid sebagai sosok lembut yang memancarkan daya magis tanpa menakuti. Ia menjadi lambang dari keindahan yang terluka cerminan kebudayaan yang sekarat, namun tetap berusaha hidup dengan anggun di tengah keterbatasan.
Dibuka dengan dengan pembacaan puisi dan musikalisasi puisi Chairil Anwar dengan judul " Sajak Putih" yang dibawakan syahdu oleh Ikhsan Rosa, suasana malam itu segera berubah menjadi ruang refleksi. Lalu, para aktor memainkan naskah “Ingrid” dengan disiplin dan kekuatan emosi yang nyaris membuat penonton lupa bahwa mereka berada di dalam gedung yang belum selesai dibangun.
Kembali ke Tanah Asal
Boyke Sulaiman bukan nama asing di dunia teater Indonesia. Ia telah lama bermukim di Jakarta dan menekuni dunia sastra dan pertunjukan. Namun, bagi Boyke, panggung di Padang tetaplah rumah pertama tempat di mana ia mengenal dunia seni pada awal 1980-an di Pusat Kesenian Padang, yang kini dikenal sebagai Taman Budaya Sumatera Barat.
Maka, ketika ia memutuskan untuk kembali dan menggelar pertunjukan “Ingrid”, keputusannya bukan sekadar nostalgia, melainkan bentuk tanggung jawab moral. Ia bahkan menyisihkan sebagian dana pribadi dari penghargaan Badan Bahasa atas karyanya dalam bidang sastra untuk membiayai produksi ini.
“Saya ingin kembali ke tempat saya pertama belajar tentang teater,” ujarnya. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi sarat makna. Di dalamnya tersimpan kerinduan, rasa syukur, sekaligus kritik halus terhadap situasi kebudayaan di Sumatera Barat tempat yang kaya akan tradisi, tetapi miskin perhatian terhadap ruang ekspresi seni.
Ruang yang Nyaris Mati
Gedung Kebudayaan Sumatera Barat telah lama menjadi luka terbuka. Hampir sepuluh tahun sejak proyeknya dimulai, bangunan itu masih terkatung dalam kondisi setengah jadi. Sejumlah pertunjukan, diskusi, dan aksi seni telah berkali-kali menyerukan agar pembangunan diselesaikan, namun suara itu sering hilang ditelan angin birokrasi.
Melalui “Ingrid”, Boyke seakan menghidupkan kembali ruang yang nyaris mati itu. Dalam keterbatasan cahaya, penonton bisa merasakan simbolisme yang kuat: bahwa seni tak memerlukan kemewahan, hanya membutuhkan ruang yang jujur. Bahwa panggung tidak harus gemerlap untuk menjadi hidup ia cukup memiliki kejujuran, kesungguhan, dan sedikit cinta.
Pertunjukan ini menjadi metafora bagi kondisi kebudayaan kita. Kita sering membangun gedung megah untuk nama, tapi lupa menumbuhkan jiwa di dalamnya. Kita mengejar proyek, tapi lupa membangun makna. Dan “Ingrid” mengingatkan: kebudayaan tidak akan tumbuh dari beton, melainkan dari kepedulian.
Lamak Dek Awak, Katuju Dek Urang
Dalam refleksi malam itu, pepatah Minang terngiang kembali: “lamak dek awak, katuju dek urang” enak bagi diri sendiri, menyenangkan bagi orang lain. Sebuah prinsip keseimbangan yang seharusnya juga menjadi dasar setiap kebijakan kebudayaan.
Namun, kenyataannya sering sebaliknya. Banyak keputusan diambil tanpa “danga mandangakan” tanpa mendengar dan mempertimbangkan suara masyarakat dan seniman. Akibatnya, fasilitas kebudayaan terbengkalai, program seni kehilangan arah, dan generasi muda kehilangan ruang untuk belajar tentang jati diri bangsanya.
Boyke dan rekan-rekan seniman malam itu tidak sekadar menampilkan lakon mereka sedang mengingatkan publik bahwa kebudayaan bukan urusan masa lalu, melainkan tanggung jawab masa kini. Bahwa seni tidak bisa tumbuh tanpa ruang yang layak, dan ruang itu tidak akan hidup tanpa perhatian dan empati pemerintah.
Seni yang Menolak Padam
Yang paling menggetarkan dari “Ingrid” bukanlah naskahnya, melainkan niat di baliknya. Di tengah keterbatasan, Boyke dan dukungan para seniman Taman Budaya berkolaborasi dengan semangat luar biasa. Mereka bergerak tanpa sponsor besar, tanpa dukungan institusi yang mapan, hanya dengan keyakinan bahwa kebudayaan mesti terus berjalan.
Malam itu, di panggung remang, teater menjelma menjadi perlawanan halus terhadap kelalaian. Setiap gerak aktor, setiap musik yang mengalun, setiap bisik puisi, menjadi bentuk protes yang paling estetis terhadap sistem yang membiarkan kebudayaan hidup setengah napas.
Penonton larut. Tepuk tangan mengisi ruangan gelap yang sempit. Ada haru, ada kebanggaan, dan juga sedikit rasa malu. Karena lewat pertunjukan sederhana itu, publik disadarkan kembali bahwa Sumatera Barat yang selama ini membanggakan dirinya sebagai pusat adat dan budaya ternyata belum memberi rumah yang layak bagi keseniannya sendiri.
Menyalakan yang Nyaris Padam
Pertunjukan “Ingrid” bukan sekadar hiburan, melainkan peringatan. Ia seperti lilin kecil yang menyalakan kesadaran bahwa gedung yang setengah jadi itu bukan hanya soal fisik, melainkan simbol dari kebijakan yang kehilangan arah.
Boyke dan kawan-kawan mengajarkan bahwa seni sejati selalu lahir dari cinta dan kesetiaan, bukan dari kemewahan. Bahwa panggung yang sederhana bisa menjadi saksi kebangkitan, jika dimainkan dengan ketulusan.
Di akhir malam, "Ingrid " sosok perempuan yang dulu diceritakan sebagai arwah di rumah dansa menjelma menjadi simbol lain suara kebudayaan yang menolak padam.
Ia seakan berbisik dari atas panggung yang gelap
Selesaikan yang belum selesai. Hidupkan yang nyaris mati. Karena di situlah martabat kita sebagai bangsa yang berbudaya diuji.(Doni bule )
Padang, Oktober 2025.
Catatan : Dari Bagindo Ishak Fahmi sebagai pemerhati budaya.




0 Komentar