LUBUAK LAWEH, DESA YANG HILANG PASCA GEMPA 2009 DI PADANG PARIAMAN


INDSATU - Gempa bumi berkekuatan 7,6 SR yang mengguncang Sumatera Barat pada 30 September 2009 menimbulkan dampak besar bagi masyarakat, salah satunya di Desa Lubuk Laweh, Nagari Tandikek, Kecamatan Patamuan, Kabupaten Padang Pariaman. Desa yang berada di lembah Gunung Tigo itu berubah total setelah bencana. Guncangan kuat memicu longsor besar yang menimbun rumah-rumah, sawah, dan kehidupan warga desa.


Sebelum gempa, Lubuk Laweh dikenal indah dengan hamparan sawah hijau dan sungai berbatu yang mengalir jernih. Namun, setelah bencana, pemandangan itu hilang sama sekali. Desa hanya menyisakan tanah merah berbukit, batang pohon mati, dan sisa-sisa atap rumah. Tidak ada lagi tanda kehidupan. Seorang warga bernama Tewarnani bahkan kehilangan seluruh keluarga dan harta bendanya.


Upaya evakuasi korban berlangsung sangat sulit. Jalan menuju desa terputus akibat longsor, sehingga hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki sejauh dua kilometer lebih melewati jalan setapak berbukit dan berbatu. Tim SAR pun kesulitan masuk karena alat berat tidak dapat dibawa ke lokasi. Akhirnya, pencarian korban hanya dilakukan secara tradisional oleh warga yang selamat.


Dalam proses pencarian, petugas TNI dan Polri menemukan sedikitnya 30 jenazah. Namun, perkiraan jumlah korban jauh lebih besar. Data Satkorlak Kabupaten Padang Pariaman menyebut sekitar 130 orang tertimbun, sementara Tim Siaga Bencana ESDM memperkirakan ada 250 korban. Hal ini karena 80 rumah di Lubuk Laweh terkubur sepenuhnya oleh material longsor.


Tragedi ini membuat tiga kampung di desa tersebut — Korong Cumanak, Korong Pulau Air, dan Korong Lubuk Laweh — rata dengan tanah dan tidak dapat dihuni kembali. Banyak korban yang tidak sempat dievakuasi karena tertimbun tebalnya material tanah. Sebagian yang berhasil ditemukan kemudian dimakamkan di bekas petak sawah yang dijadikan kuburan massal. Setidaknya 20 jenazah dimakamkan pada 5 Oktober 2009, dengan persetujuan keluarga korban.


Pemerintah akhirnya memutuskan untuk menghentikan pencarian korban setelah 10 hari pasca kejadian. Lokasi longsor kemudian ditetapkan sebagai kuburan massal. Penduduk yang selamat harus mengungsi dan mencari tempat tinggal baru, karena desa tersebut tidak lagi layak huni.


Kini, bekas lokasi bencana sebagian sudah dimanfaatkan warga untuk lahan pertanian. Namun, di sana tetap berdiri beberapa batu nisan putih sebagai penanda kuburan massal. Pemerintah juga membangun sebuah monumen dengan daftar nama korban yang hilang, sebagai pengingat duka mendalam dari tragedi Lubuk Laweh 2009.(*)



Posting Komentar

0 Komentar

Selamat datang di Website www.indsatu.com, Terima kasih telah berkunjung.. tertanda, Pemred : Yendra