AS Siapkan Blokade Iran, China Angkat Bicara dan Minta Dunia Waspada


INDSATU - China membantah keras laporan media Barat yang menyebut Beijing memasok atau berencana mengirim senjata ke Iran. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menegaskan negaranya menerapkan kontrol ketat terhadap ekspor peralatan militer sesuai hukum dan kewajiban internasional, serta menyebut tuduhan tersebut sebagai fitnah tanpa dasar.


Beijing juga berharap kegagalan pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran tidak memicu kembali perang besar di Timur Tengah. China meminta semua pihak mematuhi gencatan senjata sementara, mengedepankan jalur diplomasi, dan menghindari eskalasi konflik demi memulihkan stabilitas kawasan.


Pernyataan China muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana blokade terhadap kapal yang keluar-masuk pelabuhan Iran mulai 13 April 2026 waktu setempat. Gedung Putih juga menyatakan semua opsi terhadap Iran tetap terbuka. China menilai rencana blokade Selat Hormuz tidak sejalan dengan kepentingan komunitas internasional.


Ancaman Trump datang setelah perundingan delegasi AS dan Iran di Islamabad, Pakistan, pada 11 April 2026 gagal menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri konflik. Sebelumnya, sejumlah media AS melaporkan China diduga menyiapkan pengiriman sistem pertahanan udara ke Iran, termasuk rudal anti-pesawat portabel. Trump bahkan mengancam tarif 50 persen terhadap China jika terbukti memasok senjata ke Teheran.


Di sisi lain, laporan intelijen Ukraina yang dikutip Reuters menyebut Rusia diduga memasok intelijen militer kepada Iran, termasuk citra satelit pangkalan AS di Timur Tengah. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengaku belum melihat respons dari Washington terkait laporan tersebut.


Ketegangan ini terjadi di tengah perang besar yang pecah setelah serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026. Konflik itu memicu serangan balasan Iran terhadap pangkalan militer AS dan Israel di sejumlah negara Timur Tengah. Iran juga keluar dari pembicaraan nuklir dan sempat memblokade Selat Hormuz—jalur yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan energi dunia—yang memicu lonjakan harga minyak global.


Setelah 40 hari perang, AS dan Iran menyepakati gencatan senjata sementara selama dua pekan sejak 7 April 2026. Namun pertemuan lanjutan di Islamabad gagal mencapai solusi permanen. Trump kemudian kembali mengancam blokade kapal terkait Iran di Selat Hormuz, yang oleh Iran disebut sebagai tindakan ilegal dan menyerupai pembajakan.


Perang ini dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 1.900 orang, sekaligus meningkatkan kekhawatiran krisis energi global dan eskalasi konflik yang lebih luas di Timur Tengah.(*)


Sumber : Tribunnews.com.

Posting Komentar

0 Komentar

Selamat datang di Website www.indsatu.com, Terima kasih telah berkunjung.. tertanda, Pemred : Yendra