INDSATU - Terik sinar matahari terasa begitu menyengat di atas langit TPU Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (29/4/2026).
Namun, teriknya cuaca tak terasa bagi Sri Lestari.
Perempuan paruh baya itu duduk bersimpuh di samping pusara yang masih basah.
Matanya sembab, tatapannya kosong memandangi gundukan tanah tempat putri tercintanya, Harum Anjasari, kini terbaring untuk selamanya.
Harum Anjasari merupakan korban kecelakaan tragis di Stasiun Bekasi Timur yang menyisakan luka mendalam bagi keluarga.
Di sela isak tangis yang pecah dari para pelayat, Sri Lestari mencoba mengumpulkan memori untuk bercerita.
Suaranya bergetar saat mengenang komunikasi terakhirnya dengan sang anak, Harum.
"Kami hari Senin siang masih sempat WhatsApp-an sama dia. Biasa, dia tanya, 'Bapak Ibu gimana?'," ujar Sri Lestari.
Sebelum peristiwa nahas di Stasiun Bekasi Timur terjadi, Harum kerap mengungkapkan keinginan yang tak biasa.
Ia terus-menerus mengucap ingin pulang ke rumah ibundanya. Dimana, Harus telah tinggal bersama keluarganya di kawasan Tambun.
Kalimat ‘Mama, aku pengen pulang’ seolah menjadi melodi sedih yang berulang dalam percakapan mereka belakangan ini.
"Memang sebelum meninggal dia sudah pengen pulang terus. Dia bilang, 'Mama, aku pengen pulang ke rumah Mamah, aku pengen pulang. Aku kangen sama Mamah. Aku pengen di rumah Mamah aja'," kenang Sri dengan suara bergetar.
Mendengar keluh kesah sang putri, Sri sebagai seorang ibu hanya bisa memberikan pelukan lewat kata-kata.
Ia mencoba menenangkan Harum yang saat itu tampak sedang menanggung beban rindu yang berat.
"Aku bilang, kalau kamu sudah enggak kuat, kalau kamu pengen pulang, pintu Mamah selalu terbuka buat kamu," ucap Sri.
Dalam percakapan terakhir itu, Harum sempat berjanji akan menemui ibundanya pada akhir pekan ini. Sebuah janji yang kini hanya tinggal kenangan.
"Iya Mah, nanti aku pulang ya Mah. Nanti hari Jumat aku pengen ke rumah Mamah. Boleh ya Mah?" ujar Sri menirukan ucapan Harum.
"Boleh, aku bilang begitu," lanjutnya.
Namun, takdir berkata lain. Sebelum hari Jumat itu tiba, Harum ‘pulang’ lebih awal. Bukan ke rumah hangat sang ibu di kawasan Cipayung Jakarta, melainkan pulang ke hadirat Allah SWT.
Keluarga besar tak pernah menyangka bahwa permintaan Harum untuk pulang ke rumah ibunya adalah isyarat bahwa ia akan pergi selama-lamanya.
"Kami semua kaget, tidak menyangka secepat itu dia pergi," pungkas Sri.
Sebelumnya, Harum Anjasari merupakan salah satu dari 10 korban kecelakaan kereta yang meninggal dunia dan berhasil terindentifikasi.
Identifikasi rampung pada Selasa (28/4/2026) sore di Rumah Sakit Bhayangkara Tk. I Pusdokkes Polri, Jakarta Timur.
Kepala Rumah Sakit (Karumkit) RS Polri Kramat Jati, Brigjen Prima Heru Yuliharyono, menyatakan bahwa proses identifikasi berjalan lancar berkat kerja sama tim gabungan DVI Polri.
"Telah menyelesaikan seluruh pemeriksaan terhadap 10 kantong jenazah yang dikirim dari TKP," kata Prima di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (28/4/2026).
Prima merinci bahwa jumlah korban yang dilaporkan oleh pihak keluarga juga sebanyak 10 orang, sesuai dengan jumlah jenazah yang diterima tim forensik.
"Jumlah korban yang dilaporkan oleh pihak keluarga sampai saat ini sebanyak 10 orang. Pada pukul 14.00 WIB telah dilaksanakan sidang rekonsiliasi untuk menentukan identitas korban dan memutuskan 10 jenazah telah berhasil diidentifikasi," ungkapnya.
Keterangan foto: Sang anak almarhumah Harum Anjasari menyiramkan air kemakam sang ibu di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (29/4/2026). Harum Anjasari menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat kecelakaan Kereta Api Argo Bromo Anggrek dengan kereta rel listrik (KRL) di Stasiun Bekasi Timur. (*)

0 Komentar