Dari Keluhan Seorang Anak yang Merawat Ayahnya, Ulul Azmi Hadirkan 7.000 Liter Air dan Harapan untuk Warga Rao

INDSATU -– Terkadang, pertolongan datang dari seseorang yang bahkan belum pernah kita temui. 


Tidak ada ikatan keluarga, tidak ada hubungan pertemanan sebelumnya, tetapi ada hati yang tergerak ketika mendengar sesama manusia sedang mengalami kesulitan.


Kisah itulah yang terjadi di Polongan II, Kecamatan Rao, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. 

Di tengah kesulitan mendapatkan air bersih, seorang anak bernama Idho J M Medley berjuang memenuhi kebutuhan keluarganya, terutama untuk merawat orang tuanya yang sedang sakit.

 Air yang selama ini menjadi kebutuhan sehari-hari mendadak sulit didapatkan.


 Pamsimas mati total selama sekitar satu minggu, sementara air sungai yang biasa digunakan warga telah bercampur lumpur dan tidak layak dimanfaatkan.

Dalam keadaan terdesak, Idho mencoba mencari jalan keluar.


 Ia menyampaikan keluhannya melalui media sosial Facebook pada Jumat (23/10) , berharap ada seseorang yang mengetahui tempat penjualan air bersih atau bisa membantu mendatangkan mobil tangki ke wilayahnya. Baginya, persoalan itu bukan sekadar tentang memenuhi kebutuhan rumah tangga. 

Ada orang tua yang sedang sakit, ada tanggung jawab yang harus dijalankan, dan ada kebutuhan air yang tidak bisa ditunda.


“Info yang jual air bersih mobil tangki, butuh kabar cepat khusus daerah Panti Rao ya, soalnya kami perlu sekali air bersih, berhubung orang tua saya sakit, tidak mungkin saya bawa ke sungai. 


Pamsimas sudah seminggu mati total, dan untuk di sungai pun air tidak layak dipakai karena sudah tercampur lumpur.

 Mohon bantuan secepatnya,” tulis Idho dalam unggahannya.


Kalimat itu sederhana, tetapi di baliknya tersimpan kegelisahan seorang anak yang ingin memberikan perawatan terbaik bagi orang tuanya.


 Ketika air bersih tidak tersedia, pekerjaan merawat orang sakit menjadi semakin berat.


 Sesuatu yang selama ini dianggap biasa oleh sebagian orang, ternyata bisa menjadi persoalan besar bagi keluarga yang sedang membutuhkan.



Keluhan tersebut kemudian sampai kepada Ir. Ulul Azmi, ST., M.Si., CST., IPM., ASEAN Eng., putra daerah asal Rao yang kini berdomisili di Pekanbaru, Riau. 


Ulul bukan orang yang dikenal Idho sebelumnya. 


Mereka belum pernah bertemu, bahkan tidak saling mengenal secara pribadi.

 Namun, dari sebuah unggahan di media sosial, Ulul mengetahui ada warga kampung halamannya yang sedang membutuhkan pertolongan.


Ia tidak ingin keluhan itu berlalu begitu saja. Ulul mulai mencari cara agar air bersih bisa segera sampai kepada warga. 


Ia menghubungi pihak terkait, termasuk layanan PDAM Pasaman, untuk menanyakan kemungkinan pengiriman air ke Polongan II.


Namun, upaya tersebut menghadapi kendala. 

Mobil tangki yang dapat dimintai bantuan berada di Lubuk Sikaping, sementara jarak menuju Polongan II cukup jauh. 

Kondisi kendaraan juga disebut tidak memungkinkan untuk melayani pengiriman ke lokasi tersebut. 

Ulul sempat menawarkan alternatif dengan menyediakan kendaraan sendiri dan membeli air langsung dari tempat penampungan PDAM, tetapi permintaan itu masih harus dikoordinasikan dengan pihak terkait.


Di tengah berbagai keterbatasan itu, kebutuhan warga tidak mungkin berhenti menunggu. 

Setiap waktu yang berlalu berarti keluarga Idho masih harus menghadapi kesulitan yang sama.

 Ulul pun berusaha mencari jalan lain melalui jaringan relasi yang dimilikinya.

Ia kemudian menghubungi kenalannya di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. 

Dari komunikasi tersebut, terbuka jalan untuk mendatangkan air bersih dari wilayah Lembah Sorik Marapi, Sibanggor.

 Sebuah mobil tangki dengan kapasitas sekitar 7.000 liter air akhirnya diupayakan menuju Polongan II, Kecamatan Rao.


Jarak antardaerah tidak menjadi alasan untuk berhenti berusaha. 

Air yang dibutuhkan warga harus didatangkan dari luar Kabupaten Pasaman karena pasokan di sekitar lokasi belum dapat memenuhi kebutuhan mereka.


 Perjalanan mobil tangki itu membawa sesuatu yang lebih besar daripada sekadar air: harapan bahwa kesulitan yang dialami warga masih mendapat perhatian dari sesama.


Ketika mobil tangki tiba pada Sabtu malam (24/10), sekitar 7.000 liter air bersih tersebut disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan. 


Air itu digunakan untuk membantu keluarga Idho, terutama dalam merawat orang tuanya yang sedang sakit, serta keluarga seorang ninik mamak yang juga tengah sakit dan sejumlah warga lainnya.


Bagi sebagian orang, 7.000 liter mungkin hanya angka yang menunjukkan kapasitas sebuah mobil tangki. 

Namun, bagi keluarga yang sedang kesulitan mendapatkan air, jumlah itu menjadi pertolongan nyata. 

Ada kebutuhan sehari-hari yang bisa dipenuhi, ada pekerjaan merawat orang sakit yang menjadi lebih ringan, dan ada kecemasan yang sedikit demi sedikit terurai.


Setelah bantuan tersalurkan, Idho mengirimkan pesan kepada Ulul. 

Ia mengabarkan bahwa seluruh air telah dibagikan. 


Pesan singkat itu menjadi penanda bahwa upaya yang berawal dari sebuah keluhan di media sosial akhirnya membuahkan hasil.

“Assalamualaikum, Bang. Air 7.000 liter sudah tersalurkan semua,” tulis Idho.

Namun, pesan itu tidak berhenti pada laporan bahwa air telah diterima. 

Ada rasa haru dan terima kasih yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

 Idho mengaku tidak pernah membayangkan bahwa seseorang yang tidak dikenalnya akan berusaha sejauh itu untuk membantu dirinya dan warga lain di Polongan II.



“Saya tidak tahu rasanya memulai terima kasih ini dari mana. Jangankan untuk bertemu, kenal pun dengan sosok Abang sebelumnya saya tidak pernah. 

Tetapi Allah mengetuk pintu hati Abang untuk menolong saya dan kami, beberapa masyarakat Polongan II yang sangat membutuhkan air,” ungkapnya.


Bagi Idho, pertolongan tersebut terasa semakin berarti karena datang ketika keluarganya sedang menghadapi keadaan sulit. 

Ia bukan hanya sedang mencari air untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga berusaha memastikan orang tuanya yang sakit tetap mendapatkan perawatan yang layak.

 Dalam situasi seperti itu, bantuan yang datang tepat waktu bisa menghadirkan kelegaan yang tidak mudah diukur dengan materi.

Ia pun menyampaikan rasa bangganya karena dapat mengenal sosok Ulul melalui peristiwa tersebut, meskipun keduanya belum pernah bertatap muka.


“Saya bangga bisa kenal sosok Abang melalui kesusahan saya dan kami dengan ketiadaan air Pamsimas sudah lebih seminggu,” tuturnya.


Rasa terima kasih Idho juga tertuju pada kesediaan Ulul menggerakkan jejaring lintas daerah demi memenuhi kebutuhan masyarakat. 

Air yang datang dari Lembah Sorik Marapi, Sibanggor, menjadi bukti bahwa kepedulian tidak selalu dibatasi jarak, tempat tinggal, ataupun kedekatan hubungan.


“Jauh dari Lembah Sorik Marapi, Sibanggor, Abang mendatangkan mobil tangki untuk membantu saya dan kami, serta mempermudah pekerjaan saya dalam merawat orang tua,” katanya.


Di akhir pesannya, Idho menyampaikan doa bagi Ulul dan keluarganya. 

Doa itu lahir dari rasa syukur seseorang yang merasa tidak sendirian ketika sedang menghadapi kesulitan.

“Masyaallah, Bang. Semoga Allah balaskan beribu-ribu kebaikan untuk Abang dan keluarga,” ungkapnya.


Sementara itu, Ulul Azmi mengatakan bahwa bantuan tersebut merupakan bentuk kepeduliannya terhadap masyarakat di kampung halaman. 

Ia menyadari bahwa jumlah air yang didatangkan belum tentu mampu menjawab seluruh kebutuhan warga dalam jangka panjang. 

Namun, menurutnya, pertolongan sekecil apa pun tetap berarti apabila dapat meringankan beban orang yang sedang kesulitan.


“Saya berupaya mendatangkan satu unit mobil tangki berkapasitas sekitar 7.000 liter air untuk membantu masyarakat Polongan II yang sedang kesulitan. 

Memang jumlahnya belum seberapa, tetapi mudah-mudahan bisa meringankan beban warga, terutama keluarga yang sedang merawat orang sakit dan membutuhkan air untuk keperluan sehari-hari,” ujar Ulul Minggu pagi (25/10).


Bagi Ulul, kepedulian tidak cukup berhenti pada rasa iba atau ucapan prihatin. Ketika seseorang mengetahui ada warga yang membutuhkan bantuan, perlu ada usaha nyata sesuai kemampuan. 

Ia juga menegaskan bahwa langkah tersebut bukan untuk mengambil alih tanggung jawab pemerintah daerah, melainkan membantu masyarakat sembari mendorong agar persoalan air bersih mendapat perhatian serius.



“Bantuan ini bukan untuk menggantikan tanggung jawab pemerintah. 

Saya hanya berusaha membantu sesuai kemampuan. 

Air merupakan kebutuhan dasar manusia, sehingga ketika masyarakat membutuhkan pertolongan, harus ada langkah nyata agar mereka tidak terus menunggu tanpa kepastian,” tegasnya.


Direktur PDAM Pasaman, Deddy Eka Putra, sebelumnya menjelaskan bahwa jaringan perpipaan PDAM belum menjangkau wilayah Polongan II. 

Pelayanan air bersih di kawasan tersebut berada di bawah program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas). 

Kondisi ini menjadi pengingat bahwa persoalan yang dialami warga perlu ditangani sesuai kewenangan dan kondisi infrastruktur yang ada.

Ulul berharap pemerintah daerah bersama pihak terkait mengevaluasi penyebab tidak berfungsinya Pamsimas selama sekitar satu minggu, sekaligus memastikan tersedianya solusi agar masyarakat tidak terus mengalami kesulitan serupa. 


Ia menilai, pelayanan air bersih tidak cukup hanya dijelaskan melalui persoalan teknis dan administratif, tetapi juga harus diikuti langkah konkret yang menjawab kebutuhan warga.


“Begitu pentingnya air bagi kehidupan manusia. Para ilmuwan terus mencari keberadaan air di luar Bumi karena air merupakan salah satu unsur penting yang memungkinkan kehidupan.


 Jangan sampai kita sibuk mencari air di planet lain, sementara masyarakat di negeri sendiri justru kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan dasarnya,” ujarnya.

Kisah di Polongan II memperlihatkan bahwa sebuah pertolongan besar terkadang bermula dari permintaan yang sangat sederhana.


 Seorang anak mencari air untuk merawat ayahnya yang sakit.

 Keluhannya kemudian dibaca oleh seseorang yang tidak pernah ditemuinya. Dari sana, komunikasi terjalin, berbagai kendala dihadapi, hingga akhirnya sebuah mobil tangki membawa ribuan liter air dari Sumatera Utara menuju Kabupaten Pasaman.



Tidak ada jaminan bahwa satu kali pengiriman akan menyelesaikan persoalan air bersih untuk seterusnya. 

Selama Pamsimas belum kembali berfungsi, masyarakat tetap membutuhkan solusi yang berkelanjutan. 

Namun, bantuan tersebut setidaknya menjadi penopang di tengah keadaan mendesak, terutama bagi keluarga yang sedang merawat orang sakit.

Pada akhirnya, kisah ini bukan hanya tentang 7.000 liter air yang menempuh perjalanan lintas provinsi.

 Ini adalah kisah tentang seorang anak yang berusaha merawat orang tuanya, tentang seseorang yang tergerak membantu tanpa harus mengenal terlebih dahulu, dan tentang warga yang saling menguatkan ketika kebutuhan dasar sulit dipenuhi.


Di Polongan II, air itu telah mengalir ke rumah-rumah yang membutuhkan.

 Bersamanya, hadir pula rasa lega, syukur, dan harapan. 

Sebab, ketika seseorang sedang berjuang menghadapi kesulitan, terkadang yang paling dibutuhkan bukanlah janji panjang, melainkan uluran tangan yang datang pada saat yang tepat.


Dan dari sebuah keluhan tentang air untuk orang tua yang sakit, Ulul Azmi menunjukkan bahwa kepedulian tidak harus menunggu kita mengenal seseorang.

 Sebab, di balik setiap kesulitan, selalu ada kesempatan bagi sesama manusia untuk saling menolong. 

Sementara bagi masyarakat Polongan II, harapan berikutnya tetap sama: semoga air bersih kembali mengalir dengan normal


 sehingga tidak ada lagi keluarga yang harus kebingungan mencari air ketika orang tercinta sedang membutuhkan perawatan.(*)


Sumber : RangkiangSumbar.
Editor    : HENDRIZAL.A.A.Md.


 

Posting Komentar

0 Komentar

Selamat datang di Website www.indsatu.com, Terima kasih telah berkunjung.. tertanda, Pemred : Yendra