![]() |
| Oleh: Armunadi |
INDSATU - Sejarah selalu punya dua sisi: mereka yang menorehkannya dengan keberanian, dan mereka yang menghapusnya dengan kebohongan.
Siti Manggopoh perempuan pejuang dari Nagari Manggopoh, Sumatera Barat—adalah korban dari yang kedua.
Ia bukan hanya melawan kolonialisme, tetapi juga melawan sistem nilai yang tak percaya bahwa perempuan bisa berdiri sendiri, memimpin sendiri, dan menang sendiri. Ketika ia dan rakyat Manggopoh menyerbu tangsi Belanda pada malam hari sekitar tahun 1908, itu bukan karena akal licik atau kecantikan. Itu adalah keberanian murni. Namun, sejarah lisan kotor mulai menyebar:
"Katanya Belanda bisa dikalahkan karena disuguhi perempuan."
Sebuah fitnah yang lahir bukan dari kebenaran, tapi dari kegagapan masyarakat melihat perempuan memimpin perang.
🔥 Ketakutan Patriarki terhadap Perempuan yang Melawan
Siti Manggopoh adalah simbol langka dalam sejarah Indonesia:
Seorang perempuan, di awal abad ke-20, dari masyarakat adat yang kuat, memimpin perlawanan bersenjata langsung melawan kekuasaan kolonial.
Ia bukan sekadar simbol; ia pelaku. Ia tidak menulis surat curhat. Ia tidak bersandar pada kekuasaan suami. Ia memegang komando dan ikut menyerbu tangsi Belanda bersama masyarakat. Beberapa serdadu kolonial tewas. Tangsi dibakar. Ini bukan dongeng, ini fakta sejarah.
Namun fakta itu sulit diterima oleh mereka yang hanya bisa menerima perempuan sebagai pendamping, bukan pemimpin. Maka diciptakanlah narasi pengerdilan: bahwa kemenangan itu bukan karena strategi, tapi karena tubuh.
Apa yang lebih menakutkan bagi patriarki daripada perempuan yang menang dengan senjata dan strategi?
✋ Fitnah adalah Cara Lama untuk Merendahkan Perempuan
Kita sudah mengenal pola ini:
Cut Nyak Dhien disebut tidak bisa berjuang tanpa suami.
Kartini dipoles jadi tokoh emansipasi karena tidak “berbahaya”.
Perempuan Minang pejuang dijadikan mitos kampung, bukan nama resmi pahlawan.
Kini, Siti Manggopoh difitnah seolah menang perang karena menggunakan tubuhnya. Padahal seandainya ia laki-laki, kemenangan itu sudah dijadikan pelajaran sejarah nasional sejak SD.
Fitnah terhadap perempuan pejuang bukan sekadar rumor; itu adalah taktik politik budaya untuk menghapus peran mereka dari memori bangsa.
✊ Kita Harus Mengembalikan Nama Baiknya
Sudah saatnya bangsa ini berhenti hanya menghafal nama-nama yang ditulis buku sejarah Jakarta.
Sudah saatnya kita membongkar sejarah lokal yang disimpan dalam cerita nenek, tidak disampaikan di ruang kelas.
Sudah saatnya Siti Manggopoh diangkat, bukan dicurigai. Dikenang, bukan dipermalukan.
Karena bangsa yang sehat bukan hanya menghargai pahlawan laki-laki yang berperang, tetapi juga pahlawan perempuan yang difitnah—namun tidak pernah gentar.
Sejarah bukan milik penguasa. Sejarah milik mereka yang berani melawan, dan kita yang berani mengingat.
Siti Manggopoh tidak menjual tubuhnya untuk kemerdekaan. Ia menjual nyawanya. Dan itu, terlalu mahal untuk dibayar dengan fitnah.(*)

0 Komentar