TESTIMONI PAHIT WAJIB PAJAK: "Saya Pernah Siap Mati Demi Melawan Ketidakadilan Pajak!"


INDSATU  – Sebuah testimoni memilukan kembali membuka tabir gelap di balik praktik perpajakan yang selama ini membebani masyarakat, khususnya para pelaku usaha kecil dan menengah.

Seorang klien lama dari INTAC (Indonesia Tax Center) menghubungi kembali salah satu konsultan pajak senior, Basuki, setelah 2–3 tahun berlalu sejak konsultasi pertama. Dulu, ia dikenakan pajak sebesar Rp1,2 miliar. Karena merasa dizalimi, klien tersebut sempat menyatakan bahwa jika dipaksa membayar, ia rela “angkat senjata” dan menghadapi aparat pajak dengan cara ekstrem.


Namun saat itu, ia memilih untuk mengeksekusi penyelesaiannya sendiri, tanpa pendampingan dari INTAC. Hasilnya? Memang ada penurunan angka tagihan pajak—turun menjadi Rp120 juta—namun prosesnya membuatnya lelah secara mental, hancur secara finansial, dan tetap merugi secara substansi.


“Padahal jika saya tangani sejak awal, ia bisa bebas dari pembayaran, karena memang kasusnya tidak layak dipajaki. Tapi karena jalan sendiri, akhirnya dia tetap harus bayar ratusan juta,” ujar Basuki.


Kini, pria itu datang kembali dalam keadaan usaha runtuh, dikepung utang, bahkan harus membayar lima konsultan pajak berbeda selama prosesnya. Di luar urusan pajak, beban finansialnya terus menumpuk.


Pajak yang Menakutkan, Bukan Mencerahkan


Menurut Basuki, kasus ini bukan satu atau dua. Ini adalah pola sistemik yang telah dibangun selama puluhan tahun oleh birokrasi perpajakan: menciptakan rasa takut, kebingungan, dan ketidakberdayaan di masyarakat.


> “Petugas pajak tidak peduli dengan argumen dan pendapat wajib pajak. Yang mereka pikirkan hanyalah: ‘berapa yang bisa diperas dari rakyat’. Inilah realita yang ada,” tegasnya.




Di balik dinding KPP (Kantor Pelayanan Pajak), yang terlihat megah dan modern, sesungguhnya ada operasi "psikologis" yang menekan masyarakat agar merasa bersalah, bingung, dan tak mampu melawan. Padahal banyak dari mereka sejatinya tidak bersalah—hanya keliru atau tidak paham.


GEMPA: Melawan dengan Akal Sehat


Gerakan Moral Pajak (GEMPA) hadir sebagai respons terhadap sistem perpajakan yang tidak manusiawi dan tidak adil. INTAC berkomitmen mendorong masyarakat menjadi kritis, cerdas, dan berani bersikap, bukan tunduk dalam ketidaktahuan yang dimanfaatkan oleh oknum dan sistem.


> “Pemerintah tak akan pernah benar-benar melepas pajak ke masyarakat secara adil. Karena ketika masyarakat cerdas, mereka tidak bisa lagi dijadikan objek pemerasan. Inilah kenapa gerakan seperti GEMPA sangat penting,” ujar Basuki.




GEMPA bukan sekadar gerakan hukum. Ini adalah gerakan moral, intelektual, dan sosial—sebuah ajakan untuk menata ulang relasi antara negara dan warga dalam hal yang paling sensitif: hak dan kewajiban pajak.



---


Catatan Redaksi:

Jika Anda merasa dizalimi oleh sistem perpajakan atau mengalami pengalaman serupa, RedaksiDaerah.com membuka ruang untuk testimoni Anda. Kirimkan kisah Anda ke: triadinmedia@gmail.com atau hubungi WA Center: 0811-6411-3.

Posting Komentar

0 Komentar

Selamat datang di Website www.indsatu.com, Terima kasih telah berkunjung.. tertanda, Pemred : Yendra