INDSATU - Nama Muslim Kasim tercatat sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah pemerintahan di Padang Pariaman dan Sumatera Barat. Sosoknya dikenal sebagai birokrat tegas, pekerja keras, dan pemimpin yang mengabdi sepenuh hati untuk kemajuan daerah.
Lahir di Nagari Pakandangan, Kecamatan Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman, pada 28 Mei 1942, Muslim Kasim berasal dari keluarga sederhana. Namun, semangatnya untuk menuntut ilmu dan memperbaiki kehidupan masyarakat membuatnya menapaki jalan panjang sebagai pelayan publik.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di kampung halaman, ia merantau ke Bandung dan menempuh studi di Universitas Padjadjaran (Unpad) hingga meraih gelar Sarjana Ekonomi (Akuntansi) pada tahun 1976. Ia juga menamatkan Magister Manajemen di Universitas Negeri Padang (UNP) pada awal 2000-an — bukti bahwa semangat belajarnya tak pernah padam.
Kariernya dimulai di Badan Urusan Logistik (BULOG), di mana ia bertugas di berbagai daerah, termasuk di Jawa Timur dan Bali. Kepemimpinan dan ketelitiannya dalam bidang administrasi membuatnya dikenal luas hingga akhirnya kembali ke Sumatera Barat untuk mengabdi di tanah kelahirannya.
Tahun 2000, Muslim Kasim terpilih sebagai Bupati Padang Pariaman. Ia menjabat selama dua periode (2000–2010) dan menjadi bagian dari generasi pemimpin daerah yang membawa perubahan besar di masa awal otonomi daerah.
Salah satu langkah strategis yang dilakukan pada masa kepemimpinannya adalah pemindahan ibu kota Kabupaten Padang Pariaman dari Kota Pariaman ke Nagari Parit Malintang, yang kemudian diresmikan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2008.
Kebijakan tersebut menjadi tonggak penting bagi pembangunan administratif dan tata ruang daerah.
Selain itu, ia dikenal dengan program pembangunan infrastruktur yang membuka akses ke daerah-daerah pelosok, serta pembangunan Masjid Raya Padang Pariaman di kompleks IKK Parit Malintang yang kini menjadi kebanggaan masyarakat.
Ia juga aktif mendorong sektor UMKM dan ekonomi kreatif, terutama industri batu akik yang sempat berkembang pesat di Sumatera Barat, hingga ia dijuluki “Bapak Batu Akik Sumbar.”
Setelah sukses memimpin kabupaten, Muslim Kasim melangkah ke tingkat provinsi dan terpilih sebagai Wakil Gubernur Sumatera Barat mendampingi Irwan Prayitno untuk periode 2010–2015.
Dalam masa itu, ia dikenal aktif memperjuangkan pengembangan pariwisata pesisir, termasuk Festival Pesisir Pariaman, yang menjadi ajang promosi budaya dan ekonomi masyarakat pesisir.
Muslim Kasim wafat pada 11 Februari 2017 di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, dan dimakamkan di kampung halamannya di Nagari Gadur, Enam Lingkung, Padang Pariaman.
Kepergiannya meninggalkan duka bagi masyarakat Sumatera Barat, namun jejak pengabdian dan semangatnya tetap menjadi inspirasi bagi generasi penerus.
Ia dikenang sebagai pemimpin yang sederhana, berintegritas, dan selalu menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi.
Warisan terbesar Muslim Kasim bukan hanya pembangunan yang ia tinggalkan, tetapi juga teladan moral dan ketulusan seorang anak nagari yang mengabdi untuk negeri.
Tulisan ini dipersembahkan untuk mengenang jasa dan pengabdian almarhum
Muslim Kasim (1942–2017) – Anak Nagari yang Mengabdi untuk Negeri(*)
Penulis : Nasrul Koto Psu

0 Komentar