Mega Mendung


INDSATU - Namanya Mega Mendung, artinya awan mendung. Entah kenapa nama itu dipilih. Mungkin karena kawasan itu sering turun hujan dan sering diliputi mendung.  Catatan dari BKSDA Sumbar, curah hujan rata -rata di sana sebesar 4609 mm / tahun, dengan jumlah hari hujan per bulan mencapai 12 - 21 hari, relatif tinggi memang.


Mega Mendung bagian dari Cagar Alam Lembah Anai. Ditetapkan sebagai Taman Wisata Alam (TWA) sejak 27 Maret 1974 melalui Keputusan Menteri Pertanian. Luas TWA tersebut mencapai 12,5 Ha yang terhampar di sisi jalan Padang Bukittinggi dan berada di wilayah Adminstratif Kabupaten Tanah Datar. Penetapan Mega Mendung sebagai TWA konon karena pertimbangan keanekaragaman flora dan fauna yang tinggi. Di sana tercatat 98 jenis fauna mulai dari ikan, reptil, amfibi, mamalia, bahkan jenis burung mencapai 55. Juga terdapat 18 jenis tumbuhan bernilai penting, salah satunya Raflesia Arnoldi yang eksotis tersebut.


Lembah Anai, tempat Mega Mendung berada, bukan sekadar indah dan permai. Ia adalah laboratorium biodiversitas. Jauh-jauh hari, tepatnya 18 Desember 1922, pemerintah Kolonial Belanda menetapkannya sebagai cagar alam seluas 221 ha (Gouverneur Besluit No. 25 Stbl 756). Mereka terkesan oleh keragaman hayati yang melimpah dan kekhasan ekosistemnya, bukan sekadar pemandangan nan elok. Penetapan status cagar alam ini adalah pengakuan dini bahwa kawasan ini sangat rentan dan tak ternilai, jadi dilindungi secara mutlak dari segala intervensi.

Berdasarkan citra satelit, dari fitur Historical Imagery nya Google Earth. Dua potong gambar dalam rentang waktu yang singkat di atas menunjukkan pemandangan yang kontras. Ternyata sampai tahun 2013 kawasan Mega Mendung masih sangat perawan, pepohonan dan belukarnya masih rapat dan hijau tentunya. 


10 tahun berikutnya eksplorasi besar-besaran berjalan tanpa henti. Sejak tahun 2014 sampai 2024, rimba Mega Mendung telah disulap jadi kawasan wisata tirta, berbagai kolam pemandian dengan fasilitas yang menarik pengunjung terus dibangun. Air jernih dan sejuk memang melimpah di sana. Kawasan itu pun terkenal jadi tempat wisata air yang cocok untuk keluarga karena tarifnya relatif murah dan lokasinya yang gampang dijangkau.


Namun, alam cuma memberi izin ‘pemakaian’ tempat itu hanya selama satu dekade.  11 Mei 2024 lalu, alam memberi kode keras. Kawasan itu luluh lantak dihajar Batang Anai yang murka. 


Pasca bencana, satu dua pihak masih berusaha menghidupkan aktifitas ekonomi di sana, namun alam kembali memberi peringatan keras dan final. 27 November 2025 sisa fasilitas pemandian di sana benar-benar disapu bersih bahkan sebagian jalan utama yang melintasi kawasan itu putus total. 


Objek Wisata Pemandian Mega Mendung tinggal kenangan, Batang Anai mengambil alih sepenuhnya kawasan itu. Yang dulunya hutan hijau dan belukar yang tebal sekarang berganti hamparan puing dan batu sisa banjir.


Kementerian Kehutanan pun sampai pada keputusan untuk meninjau kembali status TWA Mega Mendung dan berencana menaikkan statusnya sebagai Cagar Alam penuh. Jika itu terjadi, maka tak ada peluang lagi untuk melakukan aktifitas wisata dan ekonomi lainnya di sana, fungsi konservasi akan sepenuhnya berjalan.


Mungkin itu yang terbaik, alam memberi pelajaran bahwa Mega Mendung memang cantik tapi bukan kawasan  yang ramah untuk dieksplorasi. Tak semua yang bisa dijual layak ditawarkan, tak semua yang cantik mesti dimiliki. Mundur kadang menjadi pilihan terbaik untuk kebaikan di masa depan. 


Membiarkannya Mega Mendung menjadi hutan lebat kembali mungkin akan lebih baik untuk anak cucu kita.


by fb Januardi


Posting Komentar

0 Komentar

Selamat datang di Website www.indsatu.com, Terima kasih telah berkunjung.. tertanda, Pemred : Yendra