Menurut Andre, penggunaan istilah “Presiden Pakak” dalam unggahan media sosial BEM Unand dinilai tidak pantas dan mencederai nilai-nilai kesantunan dalam menyampaikan aspirasi. Ia menegaskan bahwa kritik seharusnya disampaikan dengan cara yang beradab dan konstruktif.
Andre juga menyindir arah kritik yang dinilainya tidak tepat sasaran. Ia mengibaratkan dengan pepatah, “Gajah di depan mata tidak tampak, semut di seberang lautan terlihat,” yang berarti persoalan besar di sekitar justru diabaikan.
Lebih lanjut, ia menyarankan agar mahasiswa juga kritis terhadap kondisi di daerah, termasuk mengevaluasi kinerja pemerintah daerah yang dinilai masih memiliki berbagai kekurangan dalam kurun waktu panjang.
Pernyataan ini memicu perhatian publik, mengingat peran mahasiswa sebagai agen perubahan kerap diwarnai dengan kritik tajam terhadap pemerintah. Namun demikian, Andre menekankan bahwa kebebasan berpendapat tetap harus diiringi dengan tanggung jawab dan etika dalam penyampaiannya.(*)

0 Komentar