INDSATU - Pemerintah Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz masih belum dapat dibuka, meskipun gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat diperpanjang.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala negosiator dalam pembicaraan dengan AS, Mohammad Bagher Ghalibaf.
Ia menyebut pembukaan jalur pelayaran strategis itu tidak mungkin dilakukan selama masih terjadi pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata.
Melalui unggahan di media sosial X pada Rabu (22/4/2026), Ghalibaf menuding Amerika Serikat dan Israel telah melanggar gencatan senjata, khususnya melalui blokade laut dan tekanan ekonomi terhadap Iran.
“Gencatan senjata yang lengkap hanya bermakna jika tidak dilanggar oleh pengepungan laut dan penyanderaan ekonomi dunia, serta provokasi perang Zionis di semua front dihentikan,” tulisnya.
Ia menegaskan bahwa pembukaan Selat Hormuz tidak akan terjadi selama pelanggaran tersebut masih berlangsung.
“Pembukaan Selat Hormuz tidak mungkin dilakukan dengan pelanggaran mencolok terhadap gencatan senjata,” tegas Ghalibaf.
Ghalibaf juga menyatakan bahwa tekanan militer maupun bentuk intimidasi lainnya tidak akan memaksa Iran untuk mengalah. Menurutnya, satu-satunya jalan keluar adalah pengakuan terhadap hak-hak Iran di kancah internasional.
“Satu-satunya jalan adalah dengan menerima hak-hak bangsa Iran,” ujarnya.
Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa negaranya tetap terbuka untuk negosiasi.
Namun, ia menegaskan bahwa pelanggaran kesepakatan, blokade, serta ancaman yang terus berlanjut menjadi hambatan utama dalam proses diplomasi.
Pezeshkian juga mengkritik sikap Amerika Serikat dan Israel yang dinilai tidak konsisten antara pernyataan dan tindakan.
“Dunia menyaksikan omong kosong licik dan kontradiksi antara klaim serta tindakan kalian,” katanya.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata pada Selasa (21/4/2026), sehari sebelum masa berlaku sebelumnya berakhir.
Meski demikian, blokade terhadap kapal-kapal yang keluar-masuk Iran tetap diberlakukan oleh AS. Kebijakan ini mendapat dukungan dari Gedung Putih.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa Presiden Trump merasa puas dengan langkah tersebut dan menilai Iran saat ini berada dalam posisi yang lemah.(*)

0 Komentar