INDSATU – Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat, Fauzi Bahar menegaskan bahwa bencana banjir bandang atau galodo yang melanda wilayah perbukitan di Sumatera Barat tidak semata-mata disebabkan oleh penebangan liar. Menurutnya, fenomena alam di kawasan Bukit Barisan memiliki mekanisme akumulasi air yang dapat memicu luapan besar dari hulu sungai.
Dalam keterangannya pada Sabtu (9/5/2026), Fauzi Bahar menjelaskan bahwa struktur perbukitan yang berlapis sering mengalami longsoran kecil secara alami. Longsoran tersebut kemudian menyumbat aliran sungai maupun anak sungai hingga membentuk bendungan alami di kawasan hulu.
“Di perbukitan yang berlapis-lapis, sering terjadi longsor kecil yang menyumbat badan sungai atau anak sungai, sehingga menciptakan danau-danau kecil atau bendungan alami di hulu,” ujarnya.
Ia mengatakan, saat hujan deras turun dalam waktu lama, bendungan alami itu dapat jebol secara berantai dan menimbulkan efek domino yang mematikan. Massa air bercampur lumpur dari bendungan pertama akan menghantam bendungan di bawahnya hingga menghasilkan arus besar ketika mencapai kawasan permukiman di dataran rendah.
Fauzi Bahar juga menyinggung material kayu yang kerap terbawa arus banjir bandang. Menurutnya, kayu-kayu tersebut banyak yang berasal dari pohon tua yang telah lama tumbang secara alami di dalam hutan.
“Lumpur pekat bisa setinggi dada, dan kayu-kayu yang hanyut itu sudah tumpul atau berusia 5 sampai 10 tahun. Ini membuktikan material tersebut berasal dari longsoran alami yang terakumulasi sekian lama,” tuturnya.
Untuk mengantisipasi bencana serupa, ia mendorong pemerintah bersama pemangku adat melakukan pemantauan rutin ke wilayah hulu sungai. Ia menyarankan peninjauan dilakukan setiap lima hingga enam tahun guna memastikan tidak ada bendungan alami yang berpotensi membahayakan masyarakat.
Selain itu, mantan Wali Kota Padang tersebut mengajak masyarakat memadukan teknologi peringatan dini dengan kearifan lokal Minangkabau, seperti penggunaan kentongan saat muncul tanda-tanda alam tertentu.(*)
SC : Sumbarkita .

0 Komentar