Sabri & Muzni Zakaria, Tokoh Solsel Paling Berkarya

INDSATU - Sabri Zakaria dan Muzni Zakaria lahir dari lingkungan keluarga sederhana di Muara Labuh, Sumatera Barat. 

Keduanya tumbuh dalam kultur Minangkabau yang menjunjung pendidikan, kerja keras, dan pengabdian kepada masyarakat.

 Dari rahim keluarga Zakaria Datuak Rajo Nago dan Ummi Kalsum, dua bersaudara ini kemudian menempuh jalan berbeda, namun sama-sama berujung pada pengabdian panjang untuk daerah dan masyarakat.


Sabri Zakaria lahir lebih dahulu pada 5 Juni 1943. Sebagai anak sulung, ia dikenal memiliki karakter tenang, disiplin, dan bertanggung jawab. 

Di masa ketika akses pendidikan belum semudah sekarang, Sabri menunjukkan ketekunan luar biasa dalam menempuh pendidikan teknik dan pemerintahan.


Sementara sang adik, Muzni Zakaria, lahir pada 10 Oktober 1954. Berbeda usia sebelas tahun dengan kakaknya, Muzni tumbuh dengan melihat langsung bagaimana Sabri membangun karier birokrasi dari bawah. Keteladanan itu menjadi salah satu inspirasi penting dalam perjalanan hidupnya.


Keduanya memulai pendidikan dasar di kampung halaman, Muara Labuh. Dari daerah yang kala itu masih berkembang, mereka membawa mimpi besar untuk menembus dunia birokrasi dan pembangunan nasional.


Sabri kemudian melanjutkan pendidikan di Sekolah Teknik Menengah Padang sebelum menempuh pendidikan di Akademi Teknik Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik Yogyakarta.


 Pilihan pendidikan teknik menjadi fondasi penting dalam kariernya di bidang pekerjaan umum dan pengairan.


Jejak yang hampir serupa ditempuh Muzni Zakaria. Ia juga mengenyam pendidikan di Akademi Teknik Pekerjaan Umum, lalu memperdalam keilmuan hingga ke India di University of Roorkee, yang kini dikenal sebagai IIT Roorkee. Pengalaman internasional itu memperluas wawasan teknokratiknya.


Karier birokrasi Sabri Zakaria dimulai dari dunia pekerjaan umum. Ia banyak menghabiskan masa pengabdiannya di Provinsi Bengkulu. Di sana, ia dipercaya memegang sejumlah jabatan strategis mulai dari Kepala Bagian Pengairan hingga Kepala Bidang Teknik.


Kemampuan teknis dan kepemimpinannya membuat Sabri dipercaya menjadi Kepala Kantor Wilayah Pekerjaan Umum Provinsi Bengkulu. Pada era pembangunan Orde Baru, posisi tersebut termasuk sangat strategis karena berkaitan langsung dengan pembangunan infrastruktur dasar.


Setelah matang di Bengkulu, Sabri kembali mengabdi di tanah kelahirannya, Sumatera Barat. Ia kemudian dipercaya menjadi Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sumatera Barat, sebuah jabatan penting dalam pembangunan infrastruktur daerah.


Di lingkungan birokrasi, Sabri dikenal sebagai sosok pekerja keras dan memahami persoalan teknis secara detail. Ia berasal dari generasi birokrat teknokrat yang tumbuh dari pengalaman lapangan, bukan sekadar administratif.


Selain di pemerintahan, Sabri juga aktif dalam organisasi kemasyarakatan dan politik. Ia pernah menjadi Ketua Dewan Pimpinan Kolektif Kosgoro Sumatera Barat pada 1991 dan aktif dalam Partai Golkar.


Karier Sabri berjalan pada masa ketika birokrasi menjadi tulang punggung pembangunan nasional. Jalan raya, irigasi, hingga sarana pengairan menjadi sektor yang sangat menentukan pembangunan daerah.


Sementara itu, Muzni Zakaria menapaki jalur berbeda. Meski sama-sama berlatar teknik dan birokrasi, Muzni kemudian lebih dikenal sebagai figur politik dan kepala daerah.


Sebelum menjadi bupati, Muzni cukup lama berkiprah sebagai birokrat dan teknokrat di bidang pekerjaan umum. Pengalamannya membentuk pemahaman kuat terhadap pembangunan infrastruktur dan tata kelola daerah.


Puncak karier politik Muzni terjadi ketika ia terpilih menjadi Bupati Solok Selatan pada 2010. Saat itu Solok Selatan masih tergolong daerah muda hasil pemekaran yang membutuhkan percepatan pembangunan.


Sebagai kepala daerah, Muzni menghadapi tantangan besar berupa keterbatasan infrastruktur, konektivitas antarwilayah, hingga penguatan ekonomi masyarakat. Latar belakang teknik membuatnya memberi perhatian besar pada pembangunan fisik daerah.


Pada periode pertamanya, Muzni berupaya memperkuat pembangunan jalan, irigasi, dan fasilitas publik. Ia juga mendorong sektor pertanian dan perkebunan sebagai tulang punggung ekonomi masyarakat Solok Selatan.


Kepercayaan publik kembali mengantarkannya memimpin untuk periode kedua pada 2016. Hal itu menunjukkan adanya basis dukungan politik dan penilaian positif terhadap kepemimpinannya di Solok Selatan.


Sebagai kader Partai Gerindra, Muzni juga memainkan peran penting dalam membesarkan partai di tingkat lokal. Ia pernah menjabat Ketua DPC Gerindra Solok Selatan.


Meski berkiprah di jalur berbeda, Sabri dan Muzni memiliki benang merah yang sama: keduanya lahir dari dunia teknik dan pembangunan. Mereka percaya kemajuan daerah harus ditopang infrastruktur dan tata kelola pemerintahan yang baik.


Sabri lebih banyak dikenal sebagai birokrat senior dengan pendekatan teknokratis yang kuat. Sedangkan Muzni tampil sebagai birokrat yang masuk ke arena politik praktis dan memimpin daerah secara langsung.


Di mata masyarakat Sumatera Barat, dua bersaudara ini menjadi contoh bagaimana pendidikan dapat mengubah jalan hidup seseorang. Dari Muara Labuh, mereka mampu mencapai posisi penting di tingkat provinsi maupun kabupaten.


Kisah keluarga Zakaria juga menunjukkan kuatnya tradisi intelektual dan pengabdian di ranah Minang. Dalam kultur Minangkabau, keberhasilan bukan hanya diukur dari jabatan, tetapi juga manfaat yang ditinggalkan bagi kampung halaman.


Sabri Zakaria wafat pada 26 Maret 2020 di Bengkulu pada usia 76 tahun. Kepergiannya meninggalkan jejak panjang sebagai birokrat pembangunan yang pernah berkontribusi di Bengkulu dan Sumatera Barat.


Sementara Muzni Zakaria tetap dikenang sebagai salah satu tokoh penting dalam perjalanan awal pembangunan Kabupaten Solok Selatan. 

Dua bersaudara ini telah menorehkan kisah tentang pengabdian, pendidikan, dan perjalanan panjang anak kampung yang berhasil mencapai puncak karier melalui disiplin dan kerja keras.(*)

Posting Komentar

0 Komentar

Selamat datang di Website www.indsatu.com, Terima kasih telah berkunjung.. tertanda, Pemred : Yendra