Dr. H. Hendri Yazid, S.Pd.I., MM., Dt. Rajo Diguci, Kota Maju Tidak Harus Kehilangan Akar.


Oleh: Duski Samad

Warga Kota Padang


INDSATU - Kemajuan sebuah kota tidak cukup diukur dari gedung tinggi, jalan yang lebar, pusat perdagangan yang ramai, layanan digital, atau pertumbuhan ekonomi. Kota yang benar-benar maju adalah kota yang mampu meningkatkan kualitas hidup warganya tanpa kehilangan identitas, nilai, dan akar kebudayaannya.


Dalam konteks Kota Padang, prinsip ini menjadi semakin penting. Padang sedang tumbuh sebagai kota pendidikan, perdagangan, jasa, pariwisata, dan pusat pemerintahan Sumatera Barat. Modernisasi tidak mungkin dihentikan dan memang tidak perlu dihentikan. Tantangannya adalah bagaimana kemajuan tersebut tetap mempunyai jiwa Minangkabau.


Karena itu, munculnya Hendri Yazid dalam pencalonan kepemimpinan LKAAM Kota Padang patut dibaca lebih luas daripada sekadar pergantian kepengurusan organisasi adat. Pencalonan tersebut membawa pesan bahwa pelestarian adat harus dilakukan bersama-sama, marwah adat harus ditegakkan, dan kemajuan Kota Padang harus tetap berpijak pada nilai-nilai budaya Minangkabau.


Pesan ini penting karena kota yang kehilangan akar kebudayaannya mungkin terlihat maju secara fisik, tetapi dapat mengalami kekosongan sosial.


Belajar dari Negara Maju


Pengalaman banyak negara menunjukkan bahwa modernitas tidak harus dibayar dengan kehilangan tradisi. Jepang merupakan contoh bagaimana kemajuan teknologi dapat berjalan bersama penghormatan kepada tradisi, disiplin sosial, etika kerja, kebersihan, dan penghargaan terhadap komunitas.


Korea Selatan juga memperlihatkan bagaimana identitas kebudayaan justru dapat menjadi kekuatan memasuki kompetisi global. Tradisi, kuliner, bahasa, seni, dan nilai sosial tidak dibuang ketika modernisasi berlangsung. Sebaliknya, kebudayaan diolah menjadi kekuatan pendidikan, ekonomi kreatif, diplomasi, dan identitas nasional.


Pelajarannya bagi Padang jelas: menjadi modern tidak berarti menjadi orang lain.


Kota Padang tidak perlu kehilangan karakter Minangkabau untuk menjadi kota maju. Justru kemajuan akan lebih kokoh apabila dibangun di atas masyarakat yang mempunyai identitas, etika, solidaritas, dan rasa memiliki terhadap kotanya.


Inggok Basitumpu, Tabang Basitumpu


Falsafah Minangkabau menyediakan modal sosial yang besar. Salah satunya semangat inggok basitumpu, tabang basitumpu: setiap orang mempunyai tempat berpijak, mempunyai lingkungan sosial, serta terhubung dengan kaum, kampung, nagari, dan masyarakatnya.


Nilai seperti ini sangat relevan menghadapi kehidupan perkotaan yang semakin individualistik.


Penduduk Kota Padang hari ini semakin heterogen. Mobilitas tinggi, permukiman berkembang, pendatang bertambah, dan hubungan sosial berubah. Dalam keadaan demikian, masyarakat membutuhkan mekanisme kebudayaan yang mampu menciptakan keserasian sosial.


Prinsip inggok basitumpu dapat diterjemahkan menjadi program penguatan komunitas berbasis kelurahan, masjid, suku, kaum, organisasi sosial, pemuda, bundo kanduang, niniak mamak, alim ulama, dan cadiak pandai.


Orang yang datang dan hidup di Padang harus merasa mempunyai tempat untuk berinteraksi dan berkontribusi. Sebaliknya, masyarakat adat harus mampu menjadi tuan rumah yang terbuka, bermartabat, dan mampu merawat keharmonisan.


Adat Harus Masuk Ruang Pendidikan


Pelestarian adat tidak cukup melalui pidato dan seremoni. Adat harus masuk ke ruang pendidikan dan pengalaman hidup generasi muda.


Salah satu yang perlu diperkuat adalah pembelajaran sumbang duo baleh bagi anak-anak sejak sekolah dasar. Nilai sumbang duo baleh sesungguhnya bukan sekadar kumpulan larangan adat. Di dalamnya terdapat pendidikan etika, kesopanan, cara berbicara, cara bergaul, penghormatan kepada orang lain, pengendalian diri, dan kepantasan dalam kehidupan sosial.


Tentu penyampaiannya harus disesuaikan dengan perkembangan zaman dan prinsip pendidikan anak. Bukan menakut-nakuti atau membatasi kreativitas, tetapi membantu anak memahami batas kepantasan, penghormatan, tanggung jawab, dan martabat diri.


Di tengah derasnya media sosial, pendidikan karakter berbasis kearifan lokal justru semakin dibutuhkan.


Anak-anak kita tidak cukup hanya menjadi smart secara digital, tetapi juga harus cerdas secara sosial, matang secara emosional, dan berakar secara kultural.


Smart Surau dan Adat Harus Bertemu


Karena itu program unggulan Wali Kota Padang, terutama Smart Surau, layak memperoleh dukungan kuat dari lembaga adat dan tokoh masyarakat.


Surau dalam sejarah Minangkabau bukan hanya tempat shalat. Surau adalah ruang pendidikan, pembentukan karakter, belajar agama, adat, silek, kepemimpinan, solidaritas, dan tempat generasi muda mengenal masyarakatnya.


Konsep Smart Surau akan semakin kuat apabila teknologi dipertemukan dengan adat dan pendidikan karakter.


Di sinilah kepemimpinan LKAAM Kota Padang ke depan mempunyai posisi strategis. Ketua LKAAM, termasuk figur Datuk Guci dalam kepemimpinan adat kota, harus mampu membangun sinergi antara pemerintah kota, niniak mamak, alim ulama, perguruan tinggi, sekolah, masjid, pemuda, bundo kanduang, dan komunitas anak nagari.


LKAAM tidak cukup hanya hadir ketika terjadi sengketa adat. LKAAM harus tampil sebagai pusat gagasan kebudayaan kota.


Dari Jaringan Menjadi Gerakan


Kota Padang mempunyai modal sosial yang luar biasa. Ada jaringan ulama, tokoh adat, birokrat, akademisi, pengusaha, perantau, pemuda, dan anak nagari. Persoalannya adalah bagaimana jaringan besar itu diubah menjadi gerakan bersama.


Kepemimpinan adat masa depan harus mampu menghubungkan semua kekuatan tersebut.


Tokoh adat menjaga akar budaya. Ulama memperkuat nilai syarak. Pemerintah menyediakan kebijakan dan fasilitas. Perguruan tinggi memberikan kajian dan inovasi. Sekolah melakukan pewarisan. Perantau memperluas jaringan. Generasi muda menghadirkan kreativitas dan teknologi.


Inilah makna sesungguhnya dari adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah dalam pembangunan kota: bukan hanya slogan, tetapi menjadi cara bekerja bersama.


Kearifan adalah Jalan Kemajuan


Maka jangan tempatkan adat berhadapan dengan modernitas. Yang dibutuhkan bukan memilih antara menjadi kota adat atau kota modern. Padang harus menjadi kota modern yang berakar pada kearifan Minangkabau.


Gedung boleh semakin tinggi, tetapi marwah jangan semakin rendah. Teknologi boleh semakin canggih, tetapi hubungan sosial jangan semakin renggang. Ekonomi boleh semakin tumbuh, tetapi kepedulian jangan semakin hilang.


Modernisasi memberikan Kota Padang kecepatan. Teknologi memberikan kecerdasan. Pembangunan memberikan fasilitas. Tetapi kearifan memberikan arah.


Karena itu, kemajuan Kota Padang harus dibangun melalui perjumpaan tiga kekuatan: adat yang menjaga identitas, agama yang memberikan nilai, dan modernitas yang menghadirkan inovasi.


Jika ketiganya dapat dipertemukan, Padang tidak hanya menjadi kota yang maju secara fisik, tetapi kota yang berbudaya, berkarakter, harmonis, dan bermartabat.


Itulah kemajuan kota dalam kearifan.ds. 11092026.(*)

Posting Komentar

0 Komentar

Selamat datang di Website www.indsatu.com, Terima kasih telah berkunjung.. tertanda, Pemred : Yendra