Tak heran, sikap disiplinnya sudah terbentuk ketika ia ditepa sebagai pekerja di salah satu perusahaan otomotif di Negeri Sakura itu.
"Intinya saya bekerja dari hati, melayani dan mengayomi masyarakat dengan sepenuh jiwa dan raga," ucap Evi Yandri ketika ditanya tentang tips menjaga kesehatan, di tengah kesibukannya ke lokasi bencana. Bahkan, sebagai inisiator pembangunan hunian sementara (huntara) mandiri di Pauh, tak jarang Evi Yandri menghabiskan hari-harinya di lokasi bencana.
"Selama pembangunan huntara ini, saya berkantor di sini, Pauh," ucap Evi Yandri yang setiap hari memantau proses pembangunan 100 unit huntara untuk penyintas bencana banjir dan galodo di Pauh.
Ia pun agak sedih, karena proses pembangunan agak telat sedikit, karena kekurangan tukang. Tapi itu tak mematahkan semangatnya.
"Insya Allah segera selesai dan ditempati saudara kita yang rumahnya hanyut dihondoh banjir bandang," ucap Evi Yandri.
Tak hanya itu, ia pun dengan sigap melihat kondisi pengerokan bebatuan di Sungai Batu Busuak. "Ke depannya, sungai ini akan dibuatkan DAM-nya, agar air sungai tidak melebar. Jika proyek pembangunan ini jalan, diharapkan kerjasama warganya dalam menyukseskannya," ucap Evi Yandri yang selalu bersedia di ganggu jam berapa pun oleh warganya.
Dan, ketika meninggalkan lokasi batu busuak dengan 'kuda besinya' malam itu, Senin (29/12), Evi Yandri melihat ke luar kondisi sungai yang airnya melebar. Entah apa yang dipikirkannya, yang jelas ia bekerja dan melayani dengan hati suci, sehingga diberikan kekuatan untuk membantu mereka yang membutuhkan pertolongannya. (*)
Sumber : BentengSumbar.com.
0 Komentar