Oleh : Rizal Tanjung
INDSATU - Ketika Peradaban Dijadikan Kompetisi
Setiap peradaban mati bukan karena diserang,
melainkan karena diubah menjadi hiburan.
Pantun hari ini tidak dibunuh oleh larangan,
melainkan oleh festival, lomba, kurasi, dan trofi.
Sejarah selalu demikian:
ritual dijadikan pertunjukan →
hukum adat dijadikan folklore →
peradaban hidup dijadikan dekorasi budaya.
Lomba pantun ASEAN berdiri tepat di jalur kehancuran itu.
Ia tampak merayakan,
padahal sedang mensterilkan makna.
Penyeragaman: Senjata Paling Efektif Menghancurkan Budaya
Kolonialisme lama menghancurkan dengan senjata.
Kolonialisme baru menghancurkan dengan standar.
Ketika satu kriteria keindahan dipaksakan:
adat dikalahkan oleh estetika
fungsi sosial dikalahkan oleh rima
kebijaksanaan dikalahkan oleh selera juri
yang terjadi bukan persatuan,
melainkan pemusnahan karakter peradaban.
Pantun Minangkabau yang mengatur hukum tanah
akan kalah dari pantun romantis pesisir.
Pantun rakyat Vietnam akan kalah dari metafora megah.
Yang bertahan hanya pantun lomba.
Sisanya punah pelan-pelan.
Festivalisasi Budaya = Pemakaman Budaya Hidup
Setiap budaya yang “difestivalisasi” akan mati.
Karena:
budaya hidup → lahir dari kebutuhan sosial
budaya festival → lahir dari panggung hiburan
Ketika pantun hidup untuk menyelesaikan konflik,
lalu dipaksa hidup untuk menang lomba,
fungsi sosialnya runtuh.
Ia berhenti menjadi alat peradaban.
Ia menjadi produk konsumsi.
Seperti tari ritual yang kehilangan makna sakral
ketika dipendekkan untuk panggung pariwisata.
ASEAN dan Ilusi Persatuan Budaya
ASEAN bicara persatuan,
namun memakai model budaya kolonial:
— satu standar
— satu estetika
— satu definisi kualitas
Ini bukan persatuan Asia.
Ini replika cara Barat mengkurasi budaya jajahan.
Perbedaan dianggap masalah.
Keunikan dianggap tidak kompetitif.
Yang lolos hanya yang cocok pasar estetika modern.
Dampak Politik Budaya yang Akan Datang
Jika lomba ini menjadi arus utama:
pantun adat hilang dari musyawarah
generasi muda menulis demi juri, bukan demi adat
fungsi diplomasi sosial lenyap
pantun berubah jadi genre sastra steril
Dalam 30–50 tahun:
pantun hidup mati
pantun lomba hidup
Itulah kehancuran kebudayaan dalam bentuk halus.
Ini Bukan Pelestarian — Ini Penjinakan
Budaya yang dilombakan adalah budaya yang sudah tidak berbahaya.
Pantun dahulu:
bisa menjatuhkan pemimpin lalim
bisa memaksa keadilan adat
bisa mengguncang struktur sosial
Pantun lomba hari ini:
aman
indah
tidak mengganggu kekuasaan
cocok untuk seremoni
Itulah tanda budaya yang sudah dijinakkan.
Jika Ini Dibiarkan, ASEAN Sedang Menggali Kubur Peradabannya Sendiri
Lomba pantun ASEAN bukan sekadar salah konsep.
Ia adalah:
proyek museumisasi budaya hidup
homogenisasi peradaban
pemutusan fungsi sosial sastra lisan
Ia menciptakan generasi yang menghafal rima
tapi kehilangan kebijaksanaan adat.
---
Manifesto Kebudayaan Lisan Asia Tenggara
Pantun harus:
tidak dilombakan lintas fungsi budaya
tidak diseragamkan estetika
tidak dijadikan hiburan steril
dipelajari dalam konteks adat
dirawat sebagai sistem sosial
dihormati sebagai hukum lisan
dirayakan sebagai keragaman peradaban
---
Radikal
Setiap budaya yang dipaksa masuk panggung kompetisi modern
akan mati sebagai peradaban
dan hidup sebagai dekorasi.
Lomba Pantun ASEAN adalah jalan menuju kematian halus pantun.
Bukan karena niat buruk —
tetapi karena kebodohan struktural dalam memahami budaya.
Dan sejarah selalu kejam pada peradaban
yang salah mengelola warisan leluhurnya.(*)
Sumatera Barat, Indonesia, 2026.

0 Komentar