"WASPADA" Predator Seksual Berkeliaran di Universitas!

INDSATU - Disaat dunia sedang gencar memerangi normalisasi LGBT, kita semestinya menyoroti faktor-faktor sosiologis yang memicu lahir dan berkembangnya fenomena tersebut di lingkungan Universitas. Nyatanya, banyak kasus pelecehan seksual di lembaga pendidikan oleh oknum pendidik yang mencoreng citra Tridharma Perguruan Tinggi. Mereka yang melanggar norma-norma ini tidak lagi pantas disebut dosen, mereka adalah predator seksual yang berlindung di balik jubah akademis dan otoritas intelektual.


Tinjauan Hukum dan Normalisasi Kejahatan, mengapa kasus semacam ini sering mencuat namun kemudian meredam seolah tak berbekas? Secara hukum, ini adalah bentuk penyalahgunaan relasi kuasa yang akut. Penyelewengan batas sosial antara dosen dan mahasiswa sering dianggap lazim oleh jajaran birokrasi kampus, yang pada gilirannya membuat predator merasa kampus adalah tempat berburu yang aman.


Jika kasus terjadi, universitas kerap bergegas melakukan reputational management dengan memberikan suap pada media agar berita tidak tersebar luas. Padahal, tindakan menutupi skandal dapat dikategorikan sebagai penghalangan keadilan (obstruction of justice) terhadap hak korban yang dilindungi oleh UU No. 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS) dan Permendikbudristek No. 30 Tahun 2021. Keengganan institusi untuk bertindak tegas menunjukkan bahwa hukum sering kali kalah oleh kepentingan prestise sektoral.


Perspektif Agama dan Manipulasi Ruang Privat, dalam tinjauan agama, peran pendidik adalah amanah kesucian ilmu. Namun, seorang dengan obsesi seksual yang menyimpang memiliki strategi manipulasi yang ahli untuk memenuhi hasrat fantasinya. 


Sebagai bukti empiris, penulis pernah menyaksikan komunikasi yang tidak wajar di sebuah universitas berlatar belakang pendidikan. Seorang dosen, ketua prodi sebut saja "Is" (samaran) berbicara kepada mahasiswanya "Gan gan" (samaran):


Is: Gan, kamu kemana?


Gan gan: Mau ke kos, Pak. 


Is: Dekat kos kamu? Bapak mau numpang sholat, sekalian numpang istirahat yah...


Gan gan: Owh iya Pak, boleh.


Dari analisis dialog tersebut, pesan yang disampaikan terkesan manis dan religius. Namun, ini adalah anomali; mengapa seorang dosen pria harus menumpang di kos mahasiswa pria ketika musholla kampus dan ruang dosen tersedia? Modus "numpang sholat" adalah bentuk infiltrasi ruang privat. Apalagi jika dituturkan dengan nada yang lembut, manja, dan intonasi yang merayu. Agama mengajarkan adab dan tata krama; ketika batas ini dirubuhkan dengan dalih kedekatan, maka di sanalah benih predasi dan LGBT mulai tumbuh.


Kerugian eksistensial yang diderita mahasiswa bukan sekadar trauma sesaat, melainkan sebuah kerugian eksistensial yang menghancurkan masa depan. Secara psikologis, mahasiswa korban predator akan mengalami degradasi kepercayaan diri dan krisis identitas yang mendalam. Secara akademik, konsentrasi dan motivasi belajar mereka akan runtuh akibat bayang-bayang ancaman dari sang predator yang memegang kendali atas nilai dan kelulusan mereka.


Lebih jauh lagi, mahasiswa mengalami kerugian moral karena lingkungan yang seharusnya menjadi tempat persemaian idealisme justru menjadi tempat mereka dikhianati oleh sosok yang mereka hormati. Harapan untuk berkembang menjadi individu yang mandiri sirna karena mereka dipaksa masuk ke dalam lingkaran manipulasi yang merusak mentalitas dan masa depan mereka sebelum benar-benar dimulai.


Kemajuan pendidikan dan kegagalan seleksi integritas, kemajuan dunia pendidikan tidak boleh hanya diukur dari aspek teoretis atau akreditasi. Sangat dirugikan jika universitas loyal membiayai pendidikan lanjut bagi dosen yang memiliki cacat karakter. Secara akademis mungkin mumpuni, namun universitas gagal memahami psikologi kepribadiannya sebagai predator. Siapa yang menipu dan siapa yang tertipu?


Dosen yang menempuh pendidikan di luar daerah bisa saja melakukan penyimpangan sosial, seperti menikahi lalu meninggalkan perempuan tanpa rasa cinta, atau terlibat hubungan gelap. Orang dengan kelainan seksual sangat ahli dalam strategi rahasia. Jika kelak ketahuan dan dihakimi massa, universitas yang mensponsori akan menanggung malu akibat kelalaian seleksi ini.


Dapat disimpulkan kita tidak bisa menyalahkan mahasiswa yang kikuk karena terikat hormat pada dosen, haruskah satgas universitas perlindungan lebih kerja ekstra dalam memahami karakter dosen? di saat orang tua bekerja keras, bertani, dan berkebun demi biaya kuliah, universitas jangan sampai menjadi tempat di mana masa depan anak hancur karena kesalahan sistem.


Tim penyeleksi dosen harus merancang indikator penilaian berbasis faktor eksternal. Profil sosial dosen yang sudah mapan usia dan finansial namun memiliki anomali perilaku sosial seperti gestur "feminis" yang tidak proporsional pada pria harus menjadi catatan kritis demi mitigasi risiko. Jangan menunggu viral baru bereaksi.

Untuk pembaca, jika Anda merasa tersinggung dengan tulisan ini, jangan-jangan anda pelakunya? (*)



*(Irawan Winata. Penulis buku "Kaum Lorong" yang telah melakukan pengamatan kepada: wanita tunasusila, palaku LGBT, terdakwa pencabulan anak dan beberapa tindak pidana lainnya.

Posting Komentar

0 Komentar

Selamat datang di Website www.indsatu.com, Terima kasih telah berkunjung.. tertanda, Pemred : Yendra