Roy Suryo Sebut Proses Penjemputan Dirinya Mirip Film G30S/PKI : Satu Kata, Brutal


INDSATU - Pakar telematika Roy Suryo mengungkap cerita terkait proses penjemputan dirinya oleh polisi pada Jumat, 19 Juni 2026.

Ia menyebut peristiwa tersebut berlangsung dengan nuansa pemaksaan dan menggambarkannya dengan satu kata, yakni "brutal".

Pernyataan itu disampaikan Roy saat berbicara dalam kanal YouTube Forum Keadilan TV, Rabu (24/6/2026).


“Ya, saya harus menyebutkan dengan sejujurnya hanya satu kata, yaitu brutal. Satu kata itu, brutal,” kata Roy.


Menurut Roy, kisah penjemputan tersebut juga mengingatkannya pada film "Pengkhianatan G30S/PKI" yang pernah ditayangkan pada masa lalu. Ia menyebut sejumlah pihak yang mendengar ceritanya turut mengaitkan kejadian tersebut dengan suasana dalam film garapan sutradara Arifin C Noer itu.


Roy kemudian menceritakan kronologi kejadian yang dialaminya pada Jumat pagi, 19 Juni 2026.


Sebelumnya, pada Kamis (18/6/2026), Roy mengaku menghadiri sebuah acara bersama sejumlah purnawirawan TNI di Bandung. Ia baru tiba di rumah sekitar pukul 01.30 WIB karena perjalanan pulang dilakukan pada malam hari.


Setelah tiba di rumah, Roy beristirahat dan bangun sekitar pukul 04.30 WIB untuk menjalankan ibadah salat Subuh. Ia kemudian berniat kembali tidur.


Namun, sekitar pukul 07.00 WIB, Roy mengaku terkejut karena mendengar suara bel rumah berbunyi berkali-kali.


Saat mengecek, ia mengetahui bahwa yang datang adalah sejumlah anggota polisi.


Roy awalnya menduga kedatangan polisi tersebut untuk memberikan surat atau undangan. Namun, menurutnya, petugas langsung masuk menuju bagian dalam rumah hingga ke kamar tidurnya.


“Baru saya bilang mau ngecek itu, tiba-tiba ‘geruduk-geruduk’ (suara sepatu polisi) udah pada naik. Naik tanpa dipersilakan. Sekitar 7 orang, nah dan mereka memakai penutup, pakai masker,” jelas Roy.


Ia mengatakan dirinya kemudian diminta ikut ke kantor polisi tanpa diberi kesempatan untuk mengganti pakaian terlebih dahulu.


Roy juga mengaku sempat meminta waktu untuk menunggu pengacaranya terkait proses tersebut. Namun, menurutnya, permintaan itu tidak dipenuhi.


“Jadi sama sekali tidak mau menunggu lawyer, kemudian saya langsung dibawa begitu saja, bahkan ada ancaman. ‘Udah borgol-borgol’,” ucap Roy menirukan suara polisi.


Roy menyebut cerita mengenai proses penjemputan tersebut juga disampaikan kepada sejumlah pihak, termasuk penasihat hukumnya yang merupakan mantan petinggi Polri.


Menurut Roy, mantan petinggi Polri tersebut kemudian mengibaratkan kejadian itu seperti adegan dalam film "Pengkhianatan G30S/PKI".


“Saya ceritakan juga dengan teman-teman yang lain (soal penangkapan itu) termasuk salah seorang penasihat kami, yaitu awalnya adalah saksi ahli, mantan petinggi Polri, yang kemudian juga mengatakan, ‘oh kayak film G30S/PKI, mas’. Nah akhirnya kalimat itu yang sekarang viral,” pungkasnya.(*)


Sumber  : Tribunnews.


Posting Komentar

0 Komentar

Selamat datang di Website www.indsatu.com, Terima kasih telah berkunjung.. tertanda, Pemred : Yendra