![]() |
| Karya Jow Aether |
INDSATU - Zulfikar dan Samsul adalah dua sahabat yang tumbuh bersama di sebuah panti asuhan di Kota Padang pada sekitar tahun 1980-an. Mereka telah saling mengenal selama dua belas tahun sejak sama-sama ditinggalkan ketika masih balita di depan gerbang panti.
Mereka tinggal di asrama bersama anak-anak lain. Namun, di antara semuanya, ikatan persahabatan Zulfikar dan Samsul adalah yang paling erat. Bersama Zulfikar, Samsul tak pernah merasa kesepian. Mereka berbagi tawa, duka, mimpi, dan harapan hingga akhirnya sama-sama menginjak bangku SMA.
Setelah lulus sekolah, takdir membawa mereka menempuh jalan hidup yang berbeda. Zulfikar merantau ke Bandung dan bekerja di sebuah pabrik roti. Sementara itu, Samsul memilih menjadi seorang pelaut dan berlayar hingga akhirnya menetap bekerja di Ambon.
Tahun demi tahun berlalu tanpa pertemuan. Mereka hanya sesekali saling berkirim pesan melalui surat. Kesibukan dan tanggung jawab masing-masing membuat komunikasi mereka semakin jarang. Meski begitu, persahabatan mereka tak pernah benar-benar pudar.
Suatu hari, Zulfikar memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaannya. Ia menghubungi Samsul dan menyampaikan keinginannya untuk menyusul ke Ambon. Zulfikar ingin bekerja bersama sahabatnya sebagai awak kapal.
Dengan penuh harapan, Zulfikar akhirnya tiba di Pelabuhan Ambon. Ia mencari-cari sosok Samsul di antara hiruk-pikuk para pelaut.
"Permisi, apakah Anda mengenal Samsul?" tanyanya kepada seorang pemuda.
Pemuda itu terdiam beberapa saat. Wajahnya berubah muram sebelum akhirnya menjawab dengan suara pelan.
"Saya teman Samsul... Samsul sudah meninggal satu bulan yang lalu di tengah laut."
Seakan dunia berhenti berputar, tubuh Zulfikar terasa lemas. Ia tak mampu berkata-kata. Perjalanan panjang yang ia tempuh untuk bertemu sahabatnya justru berakhir dengan kabar yang paling menyakitkan.
Pemuda itu melanjutkan ucapannya.
"Sebelum meninggal, Samsul mengalami demam tinggi saat kapal sedang berlayar. Kami sudah berusaha semampu kami, tetapi nyawanya tidak tertolong."
Ia menarik napas panjang sebelum kembali berkata,
"Dan ada satu pesan yang selalu ia titipkan kepada kami. Ia berkata, 'Jika suatu hari Zulfikar datang mencariku, ajaklah dia menggantikanku bekerja di kapal.' Hari ini... saya datang menjemputmu untuk memenuhi pesan terakhirnya."
Air mata Zulfikar tak lagi mampu dibendung. Ia kehilangan satu-satunya sahabat yang telah menemaninya sejak kecil. Namun, di balik duka itu, ia merasa ada amanah yang harus ia tunaikan.
Hari-hari pun berlalu.
Kini Zulfikar bekerja sebagai awak kapal ikan, menggantikan posisi Samsul. Setiap kali kapal membelah ombak, ia merasa seolah sedang melanjutkan perjalanan yang pernah dimulai sahabatnya.
Jenazah Samsul telah disemayamkan di peristirahatan terakhirnya—di kedalaman biru lautan, tempat yang selama hidup begitu ia cintai.
Pada suatu senja, Zulfikar berdiri di buritan kapal, memandang hamparan laut yang tak berujung.
"Samsul... ini adalah amanah darimu. Aku tidak tahu sampai kapan aku akan bertahan di sini. Namun, selama aku masih mampu, aku ingin tetap berada di laut. Dengan begitu, aku merasa kita masih berlayar bersama."
Setiap waktu istirahat, Zulfikar selalu menyempatkan diri menatap luasnya samudra. Angin laut berembus pelan, seolah membawa bisikan persahabatan yang tak pernah benar-benar berakhir.
"Hari ini, dan setiap hari setelahnya, aku akan selalu mendoakan kedamaian jiwamu, wahai sahabat. Beristirahatlah dengan tenang di dalam indahnya lautan. Selama ombak masih bergulung dan langit masih menaungi samudra, namamu akan tetap hidup di dalam hatiku."(*)

0 Komentar