Menyulap Reruntuhan: Ketika Seni Tumbuh di Antara Beton Mangkrak




INDSATU - Ditengah kerangka beton yangberdiri setengah jadi, di sela tiang-tiang gemuk yang dibiarkan telanjang oleh waktu, tumbuh kehidupan baru yang tak pernah tercatat dalam rencana pembangunan. Bekas proyek gedung kebudayaan yang mangkrak sejak tahun 2019 akibat salah urus ini kini perlahan menjelma menjadi ruang alternatif—bukan sekadar tempat berlindung, melainkan wadah untuk berkarya dan menyemaikan makna.

 Di sinilah, di tengah puing kegagalan sistem, Jon Wahid—seorang seniman lokal dengan komitmen teguh pada proses kreatif akar rumput—menghidupkan sebuah studio seni. Bukan studio yang steril dengan pencahayaan galeri dan pendingin ruangan, tetapi ruang yang cukup nyaman untuk beraktivitas dan berpikir. Halamannya terbuka, mempersilakan siapa pun untuk menyatu dengan tanah, pepohonan, dan jejak-jejak beton yang terlupakan.



Di antara potongan kayu, bangku darurat, dan meja-meja sederhana yang dipenuhi botol cat serta peralatan pahat, para seniman datang dan pergi. Beberapa melukis, yang lain mengukir batang kayu, berdiskusi, atau sekadar mengamati. Ada suasana keterbukaan, kejujuran, dan kesetiaan pada proses—nilai-nilai yang semakin langka di ruang-ruang seni komersial yang serba steril.


Kontras antara struktur mangkrak dan kehidupan kreatif yang tumbuh di dalamnya menjadi simbol paling kuat dari transformasi ruang ini. Proyek negara yang gagal disempurnakan oleh birokrasi justru diberi makna oleh tangan-tangan seniman yang bekerja dengan keyakinan. Ini bukan semata urusan estetika, tetapi sikap terhadap ruang, sejarah, dan tanggung jawab budaya.

Ruang ini telah menjelma menjadi laboratorium seni dan komunitas. Di sinilah ide-ide tidak hanya dipamerkan, tetapi diuji dalam debu dan terik, dalam tawa dan keluh, dalam bahasa yang tak selalu sama. Ruang ini, dalam segala keterbatasannya, menjadi tempat persilangan: antara yang lokal dan global, antara yang selesai dan tak selesai, antara puing dan penciptaan.


Lebih jauh, hadirnya studio Jon Wahid dan berbagai kegiatan seni yang tumbuh di sekitarnya menjadi kritik diam terhadap proyek gedung kebudayaan yang mangkrak. Apa yang gagal diselesaikan oleh sistem, justru diberi nyawa oleh komunitas. Gedung yang semestinya menjadi simbol budaya kini menemukan fungsi sejatinya justru lewat aksi nyata para pelaku budaya itu sendiri.


Di tengah kota yang makin penuh beton dan ruang komersial, tempat ini hadir sebagai museum hidup, galeri terbuka, sekaligus panggung komunitas. Bukan sekadar ruang kerja, tapi ruang perjumpaan dan permenungan—tempat seni kembali ke akarnya: tumbuh dari tanah, dari dialog, dari kerja kolektif.


Terlepas dari pertanyaan apakah gedung kebudayaan itu akan selesai seperti yang dulu direncanakan, hari ini ia telah menjadi ruang budaya yang hidup—tempat berkumpulnya semangat, bukan birokrasi; tempat lahirnya karya, bukan kontrak; tempat di mana seni menjadi peristiwa, bukan sekadar tontonan.

Dan mungkin, dalam diam, tiang-tiang beton itu pun ikut bersyukur—karena akhirnya mereka menjadi saksi, bukan atas gagalnya sebuah proyek, melainkan atas tumbuhnya harapan yang dirawat dengan kesungguhan. (Armunadi)

Posting Komentar

0 Komentar

Selamat datang di Website www.indsatu.com, Terima kasih telah berkunjung.. tertanda, Pemred : Yendra