INDSATU - Pemandangan di aliran Sungai Batang Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat, pada Rabu (28/1/2026), menyisakan potret kegersangan yang memilukan.
Sungai yang biasanya menjadi urat nadi kehidupan warga kini meranggas, menyisakan tumpukan batu yang terpanggang matahari dan aliran air yang nyaris terhenti.
Pantauan reporter TribunPadang, Arif Ramanda di sudut lain pemukiman, Koto Tinggi Dalam, antrean ember berwarna-warni dan warga harus bersabar menunggu giliran mendapatkan bantuan air bersih dari pemerintah maupun relawan.
Ketika truk tangki air tiba, suasana haru sekaligus miris terasa. Anak-anak kecil akan berlarian sambil berteriak, "Aia tibo! Aia tibo!" (Air datang!).
Kondisi ini bukan sekadar fenomena alam biasa. Di balik menyusutnya debit air, muncul ancaman serius yang menghantui kesehatan warga di sepanjang bantarannya akumulasi limbah rumah tangga yang tidak lagi terbilas aliran sungai.
Masalah utama yang kini mencemaskan warga bukan hanya soal dahaga, melainkan mampetnya drainase pembuangan.
Di Kelurahan Pasa Ambacang, Kecamatan Kuranji, warga mulai mengeluhkan aroma tidak sedap dan potensi munculnya wabah penyakit akibat limbah yang mengendap.
Rosi, salah satu warga setempat, menuturkan bahwa saluran pembuangan di belakang rumahnya kini sepenuhnya kering.
Tanpa aliran air yang mengalirkan sisa aktivitas domestik, limbah tersebut membusuk di tempat dan menjadi sarang pertumbuhan organisme berbahaya.
“Kami sangat khawatir jika kondisi ini terus berlanjut, penyakit akan muncul. Air tidak mengalir lagi sejak pasca-banjir bandang akhir tahun lalu, dan sekarang justru kering kerontang,” ujar Rosi dengan nada cemas.
Kekhawatiran Rosi bukan tanpa alasan. Berdasarkan pantauan di lokasi, genangan-genangan air kecil yang tersisa di parit dan dasar sungai kini mulai dipenuhi jentik-jentik nyamuk.
Air statis yang keruh menjadi inkubator sempurna bagi vektor penyakit seperti demam berdarah.
Kondisi ini diperparah dengan warna air sungai yang berubah menjadi keruh pekat di beberapa titik yang masih memiliki sisa air.
Minimnya volume air membuat konsentrasi polutan, baik organik maupun kimiawi dari sabun cuci, meningkat drastis.
Bagi Rosi, hujan yang turun pada subuh hari adalah berkah yang tak ternilai. Air langit itu ia kumpulkan dalam wadah-wadah besar untuk keperluan mencuci, demi menghemat pasokan air bersih yang kian langka.(*)
Sumber: Tribun Padang.

0 Komentar