Membaca Pertemuan Presiden Prabowo dan Megawati Soekarnoputri Kamis 19 Maret 2026

INDSATU - Di tengah badai ekonomi global yang tak menentu dan api geopolitik yang membara, dua tokoh bangsa bertemu dalam silaturahmi yang melampaui sekat politik praktis.


Megawati Soekarnoputri, sang penyintas krisis pasca-Reformasi bertemu Presiden Prabowo Subianto yang saat ini sedang memikul beban sejarah. 


Pertemuan ini menjadi ruang diskusi mendalam di mana Megawati membedah resep "kemandirian ekonomi" saat ia berhasil memutus rantai IMF dan menjaga rupiah tetap perkasa, hingga ketegasan diplomatiknya menolak agresi militer AS ke Irak. Narasi tentang bagaimana pengalaman masa lalu menjadi kompas bagi masa depan Indonesia


***


Ruangan itu terasa tenang, namun atmosfernya sarat dengan beban sejarah. Di satu sisi sofa duduk Megawati Soekarnoputri, perempuan yang mengambil alih kemudi saat kapal bernama Indonesia hampir karam dihantam sisa-sisa badai 1998. 


Di sampingnya, Presiden Prabowo Subianto mendengarkan dengan saksama. Ini bukan sekadar basa-basi politik; ini adalah sesi "transfer of wisdom"—kuliah singkat tentang bagaimana menjaga martabat bangsa di tengah kepungan krisis.


Indonesia saat ini sedang tidak baik-baik saja. Geopolitik dunia sedang mendidih, dan tekanan ekonomi global mulai terasa hingga ke dapur rakyat. 


Dalam situasi ini, Megawati mengingatkan bahwa sejarah pernah mencatat kemenangan sunyi namun mematikan. Saat beliau menjabat, Indonesia bukan sekadar "bertahan", melainkan "pulih".


"Kedaulatan tidak bisa dinegosiasikan dengan utang," mungkin itulah pesan tersirat yang paling tajam. 


Megawati seperti menceritakan kembali momen dramatis tahun 2003, saat ia dengan berani memutuskan hubungan dengan IMF. 


Di saat banyak pengamat sangsi, ia justru membuktikan bahwa tanpa suntikan dana internasional yang mendikte, Indonesia mampu berdiri di atas kaki sendiri. 


Hasilnya? Rupiah tidak hanya stabil, tapi menguat tajam hingga menyentuh level Rp8.000-an per USD—angka yang hari ini tampak seperti mimpi.


Namun, tantangan bukan hanya soal angka di atas kertas. Megawati mengenang bagaimana ia harus memadamkan api konflik sosial di berbagai penjuru nusantara. 


Dengan pendekatan yang tegas namun tetap merangkul, ia menjahit kembali robekan sosial di Ambon, Poso, dan Aceh. Ia membuktikan bahwa persatuan nasional adalah prasyarat mutlak sebelum bicara soal pertumbuhan ekonomi.


Di panggung dunia, ketajaman prinsip Megawati semakin teruji. Saat George W. Bush melancarkan invasi ke Irak, Megawati berdiri tegak di atas prinsip Non-Blok. Ia menolak keras agresi tersebut, langkah yang menempatkan kepentingan kemanusiaan dan hukum internasional di atas tekanan negara adidaya. 


Ia menunjukkan bahwa Indonesia bukan "pion" dalam papan catur kekuatan besar, melainkan pemain yang memiliki harga diri.


Presiden Prabowo kini memikul beban serupa. Ia belajar bahwa untuk menghadapi krisis multidimensi hari ini, ia butuh lebih dari sekadar strategi militer atau teknokrasi ekonomi. Ia butuh keteguhan hati seorang Megawati—sosok yang mampu menjaga defisit anggaran tetap rendah namun tetap melahirkan institusi besar seperti KPK, Komisi Yudisial dan Mahkamah Konstitusi.


Pertemuan ini menegaskan bahwa di atas kepentingan partai, ada kepentingan nasional yang jauh lebih sakral. 


Megawati, dengan segala pengalamannya sebagai "pemadam kebakaran" krisis pasca-98, memberikan peta jalan bagi Prabowo. 


Bahwa untuk selamat dari badai global, Indonesia harus kembali pada jati dirinya: mandiri secara ekonomi, berdaulat secara politik, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Ajaran Trisakti Bung Karno. 


Sejarah telah membuktikan bahwa Megawati sukses melewati ujiannya. Kini, dengan bekal pengalaman sang pendahulu, bola kedaulatan itu ada di tangan Prabowo untuk memastikan rupiah tetap bermartabat dan bangsa tetap bersatu di tengah guncangan dunia.(*)


Sumber: WAG

Posting Komentar

0 Komentar

Selamat datang di Website www.indsatu.com, Terima kasih telah berkunjung.. tertanda, Pemred : Yendra