INDSATU - Rais, bocah kecil berusia 6 tahun, harus menjalani hidup yang tidak mudah sejak lahir. Ia terlahir tanpa kedua tangan. Saat mulai besar, ia sering bertanya kepada ibunya, kenapa dirinya berbeda dengan anak-anak lain.
Ia ingin seperti mereka, bisa bermain dan melakukan banyak hal dengan mudah. Meski hatinya sedih, ibunya selalu menguatkan, mengatakan bahwa Rais adalah anak yang istimewa dan harus tetap semangat.
Namun, kebahagiaan Rais tidak berlangsung lama. Ayahnya sudah meninggal sejak ia masih dalam kandungan, dan kini ibunya pun pergi tanpa kabar.
Rais hanya tinggal bersama neneknya yang sudah tua. Di usia sekecil itu, ia harus belajar menerima kehilangan dan kesepian yang begitu dalam. Ia sering merindukan ibunya, berharap suatu hari ibunya kembali memeluknya.
Meski memiliki keterbatasan, Rais tidak menyerah. Ia belajar melakukan semuanya dengan kaki—menulis, makan, dan kegiatan lainnya. Bahkan, ia berinisiatif berjualan cemilan kecil-kecilan untuk membantu neneknya.
Ia ingin tetap sekolah dan tidak menjadi beban. Namun, di balik semangatnya, ada rasa sedih yang sering ia pendam, apalagi saat teman-temannya mengejek karena keadaannya.
Di malam hari, Rais sering terdiam dan berbisik pelan, “Bu, Rais kangen… Ayah sudah tidak ada, ibu juga pergi.
Rais kangen…” Air matanya jatuh tanpa suara. Di usia yang masih sangat kecil, ia hanya ingin satu hal sederhana—melihat ibunya kembali, dan bisa merasakan kasih sayang seperti anak-anak lainnya.(*)

0 Komentar