![]() |
| Doni Oktrianes, Pendiri Elips Productions.(Dok : Ist ) |
INDSATU - Tulisan ini disusun sebagai bentuk penghormatan dan pengenalan lebih dalam terhadap seorang tokoh yang tumbuh dari ketekunan, keberanian, dan kepulangan pada akar: Doni Oktarianes. Sebagai seorang sahabat yang kerap berbagi ruang di Taman Budaya Padang, saya menyaksikan bahwa kisah hidup Doni tak hanya layak diceritakan, tapi juga direnungkan. Saya mencoba menulis narasi ini bukan hanya sebagai profil, tetapi sebagai cermin dan ruang tafsir — tentang bagaimana seorang anak Minang membuktikan bahwa terang tak selalu berasal dari pusat. Tulisan ini bukan untuk mengagungkan tokoh, tapi untuk memaknai ulang apa arti merintis, memberi, dan percaya pada tanah sendiri.
— *Armunadi*
Di Taman Budaya Propinsi Sumatera Barat, lelaki itu duduk tanpa tanda. Tak ada papan nama, tak ada blazer atau kartu nama. Ia menyeduh kopi hitam, pelan, seperti ingin mengingat pahit yang pernah lewat. Angin sore menyapa sepi di antara bangku-bangku kayu, tempat diskusi dan diam sama-sama punya tempat. Mungkin begini cara Tuhan memperkenalkan tokoh-tokoh pilihan-Nya: bukan lewat riuh, tapi lewat tenang di antara hembusan angin pantai.
Namanya Doni Oktrianes. Kawan-kawannya memanggilnya Doni Bule. Ia adalah anak Minang yang lahir dan besar di Padang, Sumatera Barat. Ia menempuh pendidikan di Universitas Bung Hatta, jurusan Teknik Elektro angkatan 1995. Namun jauh sebelum bangku kuliah, dunia praktik telah lebih dulu menempanya. Ayahnya adalah seorang arsitek lulusan ITSB (Institut Teknologi Sumatera Barat), yang kini dikenal sebagai Universitas Bung Hatta. Sang ayah mendirikan usaha bengkel besi bernama Cipta Teknik — di situlah Doni ditempa sejak remaja, mulai dari mengamplas, mengelas, hingga mengantarkan pesanan.
Tahun 1995, keluarga mendirikan CV. Cery Art Construction, perusahaan yang menangani pekerjaan-pekerjaan dari instansi pemerintah. Doni dipercaya memimpinnya, dan kantor pertama berada di Ujung Gurun, Padang. Namun di tahun 2007, dengan tekad membuktikan kemandirian, Doni mendirikan CV. Elips Production di Jalan Perintis Kemerdekaan. Modalnya hanya Rp50.000 — Rp20.000 dipakai untuk sewa harian bengkel beserta peralatan tua, sisanya untuk dapur. Dari titik nol itu, Elips tumbuh.
Langkah besar datang tak lama kemudian. Doni mendapat undangan untuk mengikuti tender besar dari MD Media, anak perusahaan Telkomsel: proyek pemasangan videotron di 600 lokasi di seluruh Indonesia. Tapi saat itu, ia hanya punya uang Rp50.000 di tangan. Ia bercerita pada seorang kawan yang bekerja di biro perjalanan, dan dengan percaya, temannya itu memberinya tiket dengan pembayaran belakangan.
Berangkatlah Doni ke Jakarta — tanpa tempat menginap, tanpa dana cadangan. Ia naik ojek ke kantor MD Media, sementara peserta lain datang dengan mobil mewah. Di toilet kantor, ia berkaca, merapikan rambut, dan menyemangati diri: “Kalau gagal hari ini, jangan biarkan keberanianmu mati.”
Ia mempresentasikan proposalnya. Tak banyak ornamen, tak banyak basa-basi. Tapi dari situlah Doni memenangkan proyek besar pertamanya: 600 unit videotron untuk Telkomsel. Tak lama kemudian, proyek serupa datang dari BNPB, SPBU, dan berbagai institusi nasional lainnya. Untuk mempermudah koordinasi proyek-proyek besar ini, Doni membuka kantor pusat di Bogor.
Namun pada 2010, ia mengambil keputusan penting: memindahkan kantor pusat Elips kembali ke Padang. Bukan karena kalah, tapi karena menang — karena telah cukup membuktikan diri, dan ingin menjadikan Padang bukan lagi pinggiran, tapi pusat dari gagasan.
Ketika industri periklanan dikuasai pusat dan korporasi besar, Doni mengambil jalan menanjak: membangun dari daerah. Ia mempelajari perkembangan teknologi advertising — dari billboard konvensional hingga LED Videotron — dan menjalin kerja sama dengan pabrikan di China (Shenzhen, Guangzhou) dan Korea Selatan (Seoul), hingga menjadi distributor tunggal LED sejak 2014.
Ketika yang lain sibuk membangun citra, Doni sibuk membangun jaringan kerja. Ia tak hanya ingin bersaing, tapi bersinergi dengan sesama pengusaha advertising, Doni membangun kualitas. Ia menjamin mutu produk dan layanan Elips, dari pembuatan hingga penyewaan LED Videotron, billboard, neon box, PNT, baliho dan media luar ruang lainnya, tersebar di seluruh Indonesia.
Kini, Elips memiliki cabang utama di Bekasi, dan cabang pembantu di Tegal (untuk Jawa Tengah dan sekitarnya), Pontianak (untuk kawasan timur), serta Palembang untuk kawasan Sumatera.
Elips bukan sekadar perusahaan. Ia menjadi cermin dari kerja keras tanpa pamer, dan kepemimpinan yang lahir dari lapangan. Doni belajar tidak hanya dari sekolah, tapi dari medan: dari plank toko dokter, papan reklame rumah sakit, hingga videotron
Doni pernah berdiri di tepi Bundaran HI, menyaksikan air mancur menari mengikuti irama musik dan cahaya yang ia rancang. Ia pernah duduk di tepi Danau Sri Baduga, Purwakarta, menyaksikan ratusan penonton terpukau oleh pementasan multimedia. Itu juga termasuk proyek yang ditanganinya. Tapi ia juga duduk diam di Taman Budaya Padang, sambil menyeruput kopi, membicarakan puisi, memahat patung kayu, atau sekadar menertawakan dunia bersama kawan-kawan seniman. Ia sadar, apa pun teknologi yang dibangun, akar dan arah tetap harus dijaga.
Elips mungkin bukan perusahaan dengan iklan besar di layar TV. Tapi ia telah menjelma sebagai salah satu pemain utama di bidang periklanan luar ruang, baik di tingkat lokal maupun nasional. Di tengah persaingan yang berat, Doni memilih jalan kolaborasi. Ia memprakarsai lahirnya APPIO (Asosiasi Perusahaan Periklanan Indoor & Outdoor Sumatera Barat) pada 2015. Ia menjabat sebagai Wakil Ketua Umum di Komunitas Billboard Indonesia (KBI), Ketua Bidang Media Luar Ruang P3I Sumbar, serta Ketua AMLI (Asosiasi Media Luar Griya Indonesia) wilayah Sumatera Barat — yang kantor wilayahnya bermarkas di Elips sendiri.
Ia bukan hanya membangun perusahaan, tapi juga membangun ekosistem.
Doni percaya, bisnis yang baik adalah bisnis yang berdaya dan memberdayakan. Ia menyisihkan sebagian dari pendapatan untuk kegiatan sosial. Ia membagikan ilmunya kepada pelajar SMK, membuka peluang magang, bahkan mendorong lahirnya usaha-usaha kecil yang berbasis keterampilan.
Moto Elips: “Kreatif serta berinovasi tiada henti” bukan sekadar slogan, melainkan prinsip hidup yang dijalankan bersama timnya.
Hari ini, videotron Elips menyala di berbagai kota besar. Tapi Doni masih rutin datang ke Taman Budaya Padang — tempat hampir semua persoalan terdengar renyah dikunyah dalam percakapan. Tempat ia mengingat bahwa terang yang kini menyala di Sentosa Island, air yang menari di Jakarta, Taman LED Batu Malang, hingga Taman Air Mancur Sri Baduga di Purwakarta, pernah dirancang dari meja sederhana di kota Padang.
Karena kadang, untuk sampai ke tempat jauh, kita harus pulang dulu ke diri sendiri(*)
Profil Tokoh: Doni Oktrianes, Pendiri Elips Productions.

0 Komentar