INDSATU - Dari sebuah rumah di lereng Mato Aie, Padang, seorang anak Minangkabau belajar arti disiplin, tanggung jawab, dan kerja keras. Kelak, nilai-nilai itu menuntunnya menapaki jalan panjang menuju Kalibata.
Azwar Anas lahir pada 2 Agustus 1933 di Padang, dari keluarga Minangkabau yang sederhana namun teguh memegang nilai agama dan pendidikan. Ayahnya, Anas Malik Sutan Masabumi, bekerja sebagai kepala perbengkelan kereta api di Simpang Haru — sosok yang keras, disiplin, dan berprinsip. Ibunya, Rakena, seorang perempuan tamatan sekolah dasar dari Koto Sani, Solok, dikenal lembut dan penuh kasih, menanamkan keikhlasan serta keyakinan bahwa ilmu dan iman harus berjalan beriringan.
Mereka tinggal di Mato Aie, di rumah kecil di pinggang bukit yang menghadap jalan raya Padang–Teluk Bayur. Di sanalah Azwar kecil menghabiskan masa kanak-kanaknya — tidak di sekolah Belanda seperti anak pejabat lain, melainkan di HIS Adabiyah School, sekolah agama yang didirikan Abdullah Ahmad. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan dunia kerja keras: berdagang kayu, menjual ikan, bahkan menjaja pisang goreng di pagi hari demi membantu ekonomi keluarga di masa pendudukan Jepang.
Didikan ayahnya yang tegas dan ibunya yang penuh kasih menciptakan keseimbangan dalam dirinya: keras terhadap prinsip, namun lembut dalam hati. Nilai-nilai itu menjadi dasar dari karakter Minang yang sejati — “taguah di pangkalan, rancak di rantau.”
Dari lembah Mato Aie yang tenang, Azwar Anas membawa bekal kehidupan yang kelak akan menuntunnya menjadi seorang pemimpin yang teguh dan bersahaja.(*)

0 Komentar