Oleh: Rizal Tanjung
INDSATU - Ketika Organisasi Disulap Menjadi Peradaban, dan Kebudayaan Dijadikan Spanduk Seremonial
Di zaman ketika segala sesuatu berlomba menjadi “internasional”, manusia sering lupa membedakan mana sungai, mana laut; mana peradaban, mana panitia acara. Di tengah gegap gempita Festival Pantun ASEAN 2026 yang dipuja sebagai prestasi literasi lintas negara, dunia seakan bertepuk tangan—namun lupa bertanya:
ASEAN itu kebudayaan atau sekadar organisasi politik-ekonomi?
Pantun itu warisan peradaban atau komoditas lomba administrasi?
Di sinilah kebingungan peradaban bermula.
Di sinilah logika budaya dipaksa tunduk pada logika brosur acara.
---
ASEAN: Sebuah Meja Rapat, Bukan Ladang Peradaban
ASEAN lahir bukan dari rahim kebudayaan.
Ia bukan tumbuh dari syair, mitos, ritual adat, atau ingatan leluhur.
ASEAN adalah organisasi diplomatik—
sebuah meja panjang tempat para negara menandatangani kesepakatan ekonomi, stabilitas politik, dan keamanan regional.
ASEAN bukan jiwa.
ASEAN adalah struktur.
ASEAN bukan akar budaya.
ASEAN adalah mekanisme kerja sama.
Ia seperti jam dinding: berguna mengatur waktu,
tetapi bukan pencipta matahari.
Mengangkat “Pantun ASEAN” seolah-olah ASEAN adalah otoritas kebudayaan sama seperti menyebut bank sebagai pusat spiritualitas hanya karena ia menyimpan uang umat.
Organisasi tidak melahirkan peradaban.
Peradaban melahirkan organisasi.
---
Asia: Samudra Peradaban, Bukan Sekadar Nama Wilayah
Asia bukan sekadar peta.
Asia adalah kitab panjang yang ditulis oleh ribuan kebudayaan:
Dari syair Tiongkok kuno, mantra India, hikayat Melayu, pepatah Minangkabau, haiku Jepang, hingga gurindam Nusantara.
Asia adalah ruang peradaban,
tempat bahasa, sastra, ritus, dan imajinasi manusia tumbuh selama ribuan tahun.
Jika pantun ingin dimaknai sebagai warisan budaya lintas wilayah, maka konteksnya adalah:
Asia sebagai peradaban
bukan ASEAN sebagai struktur birokrasi.
Asia adalah rumah besar.
ASEAN hanya salah satu ruang rapat di dalamnya.
---
Ketika Kebudayaan Direduksi Menjadi Event
Lomba Pantun ASEAN, sebagaimana dipromosikan hari ini, tidak berangkat dari kajian antropologis, sejarah sastra, atau akar peradaban pantun itu sendiri.
Ia lahir dari:
proposal
panitia
sponsor
target peserta
rekor jumlah naskah
Bukan dari:
riset budaya
genealogi sastra
sistem nilai adat
makna pantun dalam peradaban Melayu-Minangkabau
Pantun yang dulu adalah:
— alat diplomasi adat
— bahasa etika sosial
— sistem pendidikan moral
— estetika peradaban lisan
Kini direduksi menjadi:
lomba berhadiah
gala dinner
buku jilid massal
seremoni pejabat
Inilah tragedi modern kebudayaan:
ketika warisan leluhur diperlakukan seperti lomba karaoke.
---
Kekeliruan Konseptual yang Fatal
Menggunakan label “ASEAN” pada lomba pantun seolah-olah:
• ASEAN adalah pemilik budaya pantun
• ASEAN adalah sumber otoritas sastra
• ASEAN adalah representasi peradaban
Padahal ASEAN hanya forum politik regional.
Ini bukan sekadar kesalahan istilah.
Ini adalah kesalahan epistemologis.
Kesalahan cara berpikir tentang apa itu budaya.
Budaya tidak tunduk pada struktur organisasi.
Budaya hidup jauh sebelum organisasi lahir.
Dan tetap hidup meski organisasi bubar.
---
Ketika Pemerintah Terseret dalam Kekacauan Konsep
Di sinilah bahaya reputasi intelektual bermula.
Seorang gubernur atau pemerintah daerah yang mendukung kegiatan tanpa dasar kebudayaan yang jelas bukan sedang memajukan budaya—melainkan sedang:
melegitimasi kekeliruan konsep
mengaburkan makna peradaban
mengganti kajian dengan seremoni
Ketika pemimpin publik berdiri memberi sambutan tanpa menyadari absurditas epistemologisnya, yang runtuh bukan sekadar acara—melainkan wibawa intelektual kekuasaan itu sendiri.
Sejarah akan mencatat:
Bukan sebagai pelindung kebudayaan,
tetapi sebagai pejabat yang menyamakan organisasi dengan peradaban.
---
Pantun Bukan Milik ASEAN — Pantun Milik Peradaban
Pantun lahir dari:
— kosmologi Melayu
— etika Minangkabau
— tradisi lisan Nusantara
— sistem diplomasi adat
Pantun adalah arsitektur berpikir masyarakat tradisional.
Ia bukan sekadar sajak pendek.
Ia adalah teknologi kebudayaan.
Menempelkannya pada label organisasi modern tanpa fondasi budaya sama seperti:
menulis kitab suci di atas nota dinas.
---
Dunia yang Bingung Antara Akar dan Spanduk
Kita hidup di zaman ketika:
Peradaban disederhanakan menjadi event
Budaya disulap menjadi lomba
Warisan leluhur dikemas sebagai rekor peserta
Dan organisasi diperlakukan seperti dewa kebudayaan.
Inilah dunia yang bingung.
Dunia yang lupa bahwa:
budaya tumbuh dari sejarah panjang
bukan dari proposal tahunan
---
Antara Literasi dan Ilusi Prestasi
Tak ada yang salah dengan merayakan pantun.
Yang keliru adalah ketika perayaan kehilangan akar epistemologisnya.
Tak ada yang salah dengan festival.
Yang berbahaya adalah ketika festival menggantikan makna kebudayaan itu sendiri.
Pantun seharusnya dikaji sebagai sistem peradaban Asia—
bukan dikomodifikasi atas nama organisasi regional.
Jika tidak, kita sedang menyaksikan:
kebudayaan menjadi dekorasi
literasi menjadi angka statistik
peradaban menjadi acara seremonial
---
Dunia bingung, lomba pantun ASEAN. Apa itu?
Itu adalah potret zaman:
ketika manusia lebih mencintai label daripada makna,
lebih bangga pada seremoni daripada substansi,
dan lebih sibuk menghitung peserta daripada memahami peradaban.
Jika kebingungan ini terus dirayakan,
bukan pantun yang terangkat—
melainkan kebudayaan yang perlahan dikuburkan dalam tepuk tangan palsu.
Dan sejarah, seperti biasa,
akan menertawakan generasi yang menyangka organisasi adalah peradaban.(*)
Sumatera Barat, Indonesia, 2026.

0 Komentar