INDSATU - Pagi itu, matahari tertutup selimut awan kelabu yang pekat. Udara terasa dingin, sementara nyiur daun-daun kelapa melambai perlahan ditiup angin.
Kisah ini terjadi di pesisir Pantai Pariaman, sekitar tahun 1820-an. Sebuah pesisir yang sejak pagi telah dipenuhi kesibukan para nelayan. Mereka sibuk melabuhkan perahu-perahu bercadik di tepian pantai.
Ombak menyapu pesisir dengan keras akibat terpaan angin yang mulai menguat. Di kejauhan, barisan pulau-pulau elok tampak seolah menyapa dari balik cakrawala.
Pagi itu, seorang pemuda bernama Tanjidin ditemukan dalam keadaan menggigil di tepi sebuah dermaga tua. Pakaian lusuh yang melekat di tubuhnya seolah menjadi saksi dari pergulatan batin yang baru saja dilaluinya.
Tubuhnya tampak begitu mengenaskan. Keadaannya mengundang orang-orang berdatangan dan berkumpul di sekitar dermaga, menyaksikan pemuda malang itu dengan penuh kebingungan.
Namun, satu minggu sebelumnya...
Tanjidin bersama Baruak, teman sekaligus hewan peliharaannya—seekor kera ekor pendek—sedang berada di sebuah pulau kecil yang sangat indah.
Pulau itu dikelilingi hamparan laut biru dan batu-batu karang. Tempat tersebut sering menjadi persinggahan para nelayan yang hendak berlabuh atau sekadar beristirahat setelah menjala ikan.
Satu per satu buah kelapa dipetik oleh Baruak dengan cara memanjat pohonnya. Kelapa-kelapa itu nantinya akan dijual oleh Tanjidin di pasar.
Setelah dikumpulkan, buah-buah kelapa tersebut dibawa menggunakan perahu bercadik kecil milik Tanjidin untuk diseberangkan ke pesisir.
Hari itu, Baruak tampak kelelahan. Ia telah berhasil memetik tiga keranjang buah kelapa. Melihat sahabatnya kehabisan tenaga, Tanjidin memberikan nasi dan ubi yang dibungkus daun pisang.
"Sudah, makanlah. Kau telah bekerja keras hari ini," ujar Tanjidin sambil tersenyum.
Baruak menerima nasi dan ubi itu dan segera menyantapnya.
Hari mulai sore. Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat. Tanjidin dan Baruak pun memutuskan untuk pulang.
Namun, dua hari lagi, mereka masih harus kembali ke pulau itu.
Lima keranjang kelapa telah dipesan oleh Tuanku Pariaman, penguasa di pesisir Pariaman, untuk sebuah upacara adat. Saat itu, pemuka adat Pariaman akan kedatangan tamu dari rombongan Du Puy, pejabat Belanda dari Padang. Du Puy adalah orang Belanda pertama yang berkuasa di pesisir pantai Sumatra setelah Inggris pergi dari tanah Sumatra.
Pesanan Tuanku Pariaman adalah sebuah amanah besar bagi Tanjidin.
Maka, pada hari berikutnya, ia dan Baruak kembali berangkat ke pulau.
Tanjidin bekerja dengan penuh semangat. Satu per satu buah kelapa tua dikumpulkannya ke dalam keranjang-keranjang rotan yang telah dipesan oleh Tuanku Pariaman.
Sore harinya, seluruh kelapa tua di pulau itu telah selesai dipetik. Lima keranjang penuh kelapa disusun rapi di atas perahu bercadik kecil milik Tanjidin.
Ia kemudian melepaskan buhul tali yang terikat pada ujung batu karang tempat perahunya berlabuh.
Baruak, teman sehari-hari Tanjidin, tampak kegirangan. Ia tahu pekerjaan mereka hari itu telah selesai.
Dengan lincah, Baruak melompat ke atas cadik perahu dan duduk di atas papan kayu yang telah terlihat lusuh.
Tanjidin tersenyum melihat tingkah sahabatnya.
"Ang pandai!" seru Tanjidin dengan wajah gembira.
Itulah ungkapan kebanggaan Tanjidin kepada Baruak, yang telah begitu pandai memetik kelapa-kelapa tua berkualitas.
Perahu kecil itu pun mulai berlayar meninggalkan pulau.
Di dalam hati, Tanjidin telah membayangkan imbalan yang mungkin akan diterimanya dari Tuanku Pariaman. Ia berharap mendapatkan sesuatu yang berharga karena telah berhasil memenuhi pesanan besar tersebut.
Pada masa itu, upah dapat diterima dalam bentuk barang maupun kepingan koin emas.
Namun, belum jauh perahu mereka berlayar, tiba-tiba angin badai datang dari arah barat.
Badai itu menyapu lautan tanpa ampun.
Laut biru yang sebelumnya tenang berubah menjadi gelombang kelabu yang mengerikan. Angin berembus begitu kencang, disertai hujan yang menghantam perahu seperti ribuan batu kerikil.
"Ini badai dari barat yang ganas itu!" teriak Tanjidin.
Baruak tampak ketakutan. Ia memeluk salah satu keranjang kelapa seolah-olah tak rela barang-barang itu jatuh ke laut.
Perahu bergoyang hebat.
Langit semakin gelap. Cahaya matahari sore lenyap ditelan awan badai.
Di tengah lautan lepas, hanya ada Tanjidin dan Baruak.
Wajah Tanjidin mulai dipenuhi ketakutan. Perahu kecil itu seolah tak lagi mampu menahan beban kelapa dan menghadapi amukan badai, gelombang, serta hujan yang semakin menggila.
"Wahai Tuhan... tolong kami!"
"Allahu Akbar!"
Dalam sekejap, gelombang besar menghantam perahu bercadik itu.
Perahu hancur berkeping-keping.
Seluruh barang bawaan mereka tumpah ke laut, termasuk keranjang-keranjang berisi kelapa pesanan Tuanku Pariaman.
Baruak ikut tersapu arus.
Ia berusaha meraih salah satu buah kelapa yang mengapung. Dengan tubuh gemetar, Baruak memeluk kelapa tua itu erat-erat. Seolah-olah hanya benda itulah satu-satunya harapan yang tersisa baginya.
Sementara itu, Tanjidin berpegangan pada sisa papan kayu perahunya yang hanyut.
Mereka terombang-ambing di tengah lautan yang semakin gelap.
Gelombang memisahkan keduanya.
Perlahan, jarak antara Tanjidin dan Baruak semakin jauh.
Hingga pada detik-detik terakhir yang masih diingatnya, Tanjidin melihat Baruak dalam keadaan ketakutan.
Tubuh kecil itu tampak lemah. Tenaganya telah habis.
Baruak tak lagi mampu menahan tubuhnya pada buah kelapa yang mengapung.
Perlahan, tangannya terlepas.
Tanjidin menatapnya dengan kesedihan yang tak mampu ia ungkapkan.
Ia ingin menolong.
Ia ingin berenang menghampiri Baruak.
Namun, tubuhnya sendiri tak kuasa melawan gelombang.
"Baruak!"
Tanjidin berteriak sekuat tenaga.
Namun, suaranya tenggelam di antara amukan ombak.
Perlahan-lahan, tubuh Baruak menghilang di balik gelombang.
Hilang dari pandangan Tanjidin.
Hilang seolah-olah tak akan pernah kembali.
Setelah itu, Tanjidin tidak lagi mengingat apa yang terjadi.
Ia tidak tahu bagaimana melewati malam yang panjang.
Ia hanya tahu bahwa pagi ini, tubuhnya telah terdampar di tepi sebuah dermaga tua.
Tanjidin perlahan membuka mata.
Cahaya matahari pagi mulai menerpa wajahnya.
Di sekelilingnya, orang-orang telah berkumpul. Mereka memandang Tanjidin dengan wajah penuh kebingungan.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki yang gagah.
Tanjidin menoleh.
Seorang lelaki berjalan mendekat.
Tuanku Pariaman.
Tanpa banyak bicara, Tuanku Pariaman membuka sorban putihnya lalu menutupi tubuh Tanjidin yang kaku dan dipenuhi lumpur serta pasir.
"Angkat dia ke istana," perintahnya.
Para dubalang segera membawa Tanjidin ke kediaman Tuanku Pariaman.
Di sana, Tanjidin diperlakukan dengan baik. Seorang dubalang yang pandai mengobati luka segera merawat tubuhnya. Memar-memar kebiruan yang memenuhi tubuh Tanjidin juga dibersihkan dan diobati.
Namun, di balik keselamatan itu, hati Tanjidin terasa kosong.
Ia terus teringat kepada Baruak.
Ia tidak tahu bagaimana nasib sahabatnya.
Baruak telah menemaninya dalam mencari nafkah. Baruak telah membantunya memetik kelapa. Lebih dari itu, Baruak adalah satu-satunya makhluk yang selalu berada di sisinya.
Kini, Baruak telah hilang.
Mungkin tenggelam di tengah lautan.
Mungkin telah menemui takdirnya di antara gelombang yang tak mengenal belas kasihan.
Air mata Tanjidin jatuh ke lantai kayu bayur.
Ia menangis dalam diam.
Bukan karena kehilangan harta.
Bukan pula karena perahu dan kelapa-kelapanya telah lenyap.
Tanjidin menangis karena Baruak telah pergi.
Sahabatnya.
Temannya.
Makhluk kecil yang selama ini menemaninya melewati hari-hari kehidupan.
Dengan tubuh yang masih lemah, Tanjidin bangkit dari tempat tidurnya.
Matanya sayu. Tatapannya kosong.
Ia kemudian berjalan mengambil air wudu.
Keesokan paginya, tanpa memberi tahu siapa pun, Tanjidin kembali mendatangi pantai.
Ia berdiri di tepi laut.
Menatap ombak.
Menatap cakrawala.
Seolah-olah ia sedang menunggu ada yang akan pulang.
Atau mungkin...
Ia sedang berharap Baruak akan muncul dari balik gelombang, lalu berlari menghampirinya seperti hari-hari sebelumnya.
Tanjidin berdiri lama di sana.
"Baruak..."
Suaranya nyaris tak terdengar.
Angin laut hanya menjawabnya dengan suara ombak.
Dan pagi itu, untuk pertama kalinya, Tanjidin menyadari bahwa ada kehilangan yang tidak pernah benar-benar selesai.
Sebab terkadang, yang paling menyakitkan bukanlah kehilangan seseorang yang memiliki bahasa yang sama dengan kita.
Melainkan kehilangan satu-satunya makhluk yang selalu tinggal di sisi kita...
bahkan ketika dunia tak lagi peduli.
Penulis : Jow Aether

0 Komentar