Pertama Dalam Sejarah! Arab Saudi Dan Amerika Kompak Bombardir Irak, 20 Orang Tewas


INDSATU  -  Timur Tengah Memanas! Dunia dikejutkan atas serangan militer Amerika Serikat dan Angkatan Udara Arab Saudi yang kompak bersama melakukan operasi serangan udara gabungan berskala besar di dalam wilayah Irak pada Selasa malam, 28 Juli 2026 waktu setempat.


Operasi militer ini mencetak sejarah baru dalam konstelasi politik regional, menandai untuk pertama kalinya jet-jet tempur Arab Saudi secara terbuka berkoalisi dengan militer Amerika Serikat untuk membombardir wilayah kedaulatan Irak. 


Serangan udara presisi yang berlangsung secara simultan tersebut menghantam kantong-kantong pertahanan serta pangkalan logistik milik kelompok milisi Pasukan Mobilisasi Rakyat (PMF) atau Hashd al-Shaabi yang bersekutu erat dengan Iran.


Berdasarkan pernyataan resmi dari Komando Sentral Amerika Serikat (CENTCOM) dan Kementerian Pertahanan Arab Saudi, operasi udara gabungan ini diambil sebagai tindakan bela diri yang sah dan mendesak. 


Serangan ini dipicu oleh rentetan aksi provokasi berupa peluncuran puluhan drone bunuh diri dan rudal oleh kelompok milisi Irak dalam beberapa pekan terakhir. 


Serangan-serangan dari milisi tersebut dinilai sangat fatal karena secara langsung menargetkan pangkalan militer yang menampung personel dan aset Amerika Serikat di kawasan regional, serta menyasar infrastruktur energi dan kilang minyak strategis milik Arab Saudi di wilayah Timur.


Intensitas gempuran udara dari jet-jet tempur canggih kedua negara tersebut dilaporkan menimbulkan kerusakan infrastruktur militer yang sangat masif. 


Bombardir udara ini menyasar fasilitas-fasilitas penting milik PMF yang tersebar di tujuh provinsi berbeda di Irak, termasuk Baghdad, Wasit, Nineveh, Basra, Kirkuk, Karbala, dan Diyala. 


Di berbagai titik target, kompleks penyimpanan roket dan amunisi hancur total hingga memicu ledakan sekunder yang hebat di sekitar lokasi. 


Beberapa markas taktis pusat komando milisi dilaporkan rata dengan tanah akibat hantaman bom pintar, sementara fasilitas logistik yang digunakan sebagai pusat pelatihan drone serta bengkel perakitan kendaraan militer mengalami kelumpuhan total.


Otoritas medis setempat beserta internal militer Irak mengonfirmasi dampak fatal yang ditimbulkan oleh serangan udara masif ini terhadap personel di lapangan. 


Berdasarkan data terbaru, sedikitnya 20 orang personel milisi PMF dilaporkan tewas di tempat, di mana wilayah Nineveh dan Diyala menjadi lokasi dengan korban jiwa paling mematikan. 


Selain personel milisi lokal, otoritas setempat juga mengonfirmasi adanya beberapa warga negara Iran yang bertindak sebagai penasihat militer lapangan ikut tewas dalam serangan di Provinsi Diyala. 


Sementara itu, sekitar 32 personel lainnya dilaporkan mengalami luka berat hingga kritis akibat terkena serpihan ledakan dan langsung dievakuasi ke beberapa rumah sakit terdekat.


Peristiwa ini langsung memicu gelombang protes dan kecaman keras dari internal pemerintahan Irak. Pihak Kepresidenan Irak mengutuk keras agresi militer gabungan tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran nyata yang sangat serius terhadap kedaulatan serta stabilitas keamanan negara. 


Pemerintah Baghdad menegaskan bahwa serangan tersebut ilegal dan tidak berdasar, mengingat kelompok PMF secara hukum telah terintegrasi ke dalam institusi keamanan resmi dan berada di bawah komando angkatan bersenjata Irak. 


Agresi ini dikhawatirkan akan menyeret Irak kembali ke dalam pusaran konflik regional yang lebih luas antara kekuatan Barat-Arab melawan pengaruh Iran.(*)

Posting Komentar

0 Komentar

Selamat datang di Website www.indsatu.com, Terima kasih telah berkunjung.. tertanda, Pemred : Yendra